Itu disampaikan Paus dalam Urbi et Orbinya di Basilika Santo Petrus yang sepi di Roma, pada Minggu Paskah (12/4).
"Dalam minggu-minggu ini, kehidupan jutaan orang tiba-tiba berubah. Bagi banyak orang, tetap di rumah merupakan kesempatan untuk berefleksi, menarik diri dari kesibukan hidup, tinggal bersama orang-orang terkasih dan menikmati kebersamaan mereka," ujarnya.
"Namun, bagi banyak orang, ini juga saat yang mengkhawatirkan akan masa depan yang tidak pasti, tentang pekerjaan yang berisiko dan tentang konsekuensi lain dari krisis saat ini," tambahnya seperti dimuat
The Guardian.
Untuk menghadapi tantangan besar ini, Paus mengatakan, dirinya telah meminta agar para pemimpin politik bekerja sama untuk kebaikan.
Pernyataan Paus sendiri merujuk pada para pemimpin Uni Eropa yang selama ini dikritik karena kurang solid dalam hal penanganan wabah, utamanya karena tidak adanya koordinasi dalam hal merespons dampak ekonomi.
"Di antara banyak wilayah di dunia yang terkena virus corona, saya pikir secara khusus di Eropa," ujar Paus.
“Setelah perang dunia kedua, benua tercinta ini dapat bangkit kembali, berkat semangat solidaritas konkret yang memungkinkannya untuk mengatasi persaingan masa lalu. Lebih mendesak daripada sebelumnya, terutama dalam situasi saat ini, bahwa persaingan ini tidak mendapatkan kembali kekuatan, tetapi semua mengakui diri mereka sebagai bagian dari satu keluarga dan saling mendukung," tuturnya.
Paus mengatakan, jangan sampai keegoisan akan kepentingan tertentu dan godaan kembali ke masa lalu merusak perdamaian Eropa.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini, Paus menyampaikan pesan Paskahnya di basilika yang kosong. Di mana pada tahun lalu, sekitar 70 ribu orang hadir untuk mendengarkan pesan tersebut.
BERITA TERKAIT: