Selain itu, dalam kunjungan pertama Pence ke Irak itu, dia juga berbicara dengan Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi melalui sambungan telepon. Dia juga bertemu dengan presiden wilayah otonomi Kurdistan, Nerchirvan Barzani, di Erbil.
Menurut sebuah sumber di kantor perdana menteri Irak, panggilan telepon yang dilakukan Pence dengan Abdul Mahdi membahas soal cara-cara untuk memperkuat hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan Irak, serta kemungkinan solusi untuk krisis saat ini di negara kaya minyak itu.
"Panggilan telepon membahas perkembangan di Irak dan upaya reformasi pemerintah dalam menanggapi tuntutan para pemrotes," kata sebuah pernyataan dari kantor perdana menteri Irak, seperti dimuat
Al Jazeera.
Di Erbil Sendiri, Pence menegaskan bahwa Amerika Serikat menghormati kedaulatan Irak. Dia pun mengatakan bahwa Abdul Mahdi meyakinkannya bahwa pasukan keamanan Irak tidak akan menggunakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa yang damai.
Kunjungan itu dilakukan di tengah-tengah protes anti-pemerintah di Baghdad dan di sejumlah wilayah lain di Irak yang terjadi sejak beberapa minggu terakhir.
Pengunjuk rasa turun ke jalan sejak awal Oktober lalu menuntut layanan dasar serta mengakhiri korupsi yang merajalela. Mereka juga menuntut agar pemerintahan saat ini mengundurkan diri dan pemilihan umum baru digelar.
Unjuk rasa yang kerap berujung bentrok di Irak telah menewaskan sedikitnya 325 pengunjuk rasa dan melukai 15.000 orang lainnya.
Sementara itu, sejumlah pengamat menilai bahwa kunjungan Pence adalah cara yang diambil Amerika Serikat untuk meyakinkan Kurdi di Suriah utara. Hal itu dipertegas oleh Pence yang mengatakan di Irak bahwa pemerintah Amerika Serikat ingin bekerja sama dengan Kurdi untuk menstabilkan situasi di Suriah.
BERITA TERKAIT: