Dalam sebuah pengumuman (Kamis, 21/11), Gantz mengatakan bahwa dia tidak akan dapat memenuhi tenggat waktu tengah malam setelah Netanyahu gagal untuk mengumpulkan koalisi pada bulan Oktober lalu dan memperdalam kebuntuan politik di Israel.
"Dalam 28 hari terakhir, saya tidak meninggalkan kebutuhan bisnis yang terlewat, terlepas dari seberapa kecil, dalam upaya saya untuk membentuk pemerintahan yang akan membawa kepemimpinan negara Israel dengan integritas, moralitas dan nilai-nilai," kata Gantz.
"Kami telah melakukan upaya besar untuk membentuk pemerintah persatuan liberal yang luas, pemerintah yang akan melayani semua orang, agama dan sekuler, Yahudi dan Arab," sambungnya seperti dimuat
Al Jazeera.
Diketahui bahwa baik Netanyahu, yang mengepalai partai sayap kanan Likud, maupun mantan jenderal Gantz dari sentris Blue and White tidak memperoleh suara mayoritas di parlemen dalam pemilihan pada bulan April dan September lalu.
Pasca pemilu September lalu, Netanyahu gagal mengumpulkan koalisi. Kemudian Gantz diberi tugas oleh Presiden Israel Reuven Rivlin untuk membentuk pemerintahan koalisi dalam waktu 28 hari. Namun dia pun gagal melakukannya.
Tidak ada tanda-tanda kemajuan menuju kesepakatan yang diusulkan Rivlin untuk pemerintah persatuan nasional yang akan mencakup Likud dan Blue and White setelah pembicaraan selama berminggu-minggu.
Jika kebuntuan politik kembali terjadi saat ini, maka hal itu akan membuka jalan bagi pemilihan umum ketiga pada tahun ini di Israel.
BERITA TERKAIT: