Pasalnya, otoritas terkait masih belum bisa menemukan drone atau pihak yang menerbangkan drone serta menyebabkan insiden yang menyebabkan penutupan bandara selama 36 jam dan menyebabkan ratusan jadwal penerbangan terganggu serta ratusan ribu penumpang terlantar di bandara itu.
Sekretaris Transportasi Inggris Chris Grayling mengatakan bahwa Inggris mengerahkan teknologi militer tidak dikenal untuk menjaga bandara dari ancaman drone.
"Saya pikir penumpang aman," kata Grayling.
"Insiden semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya di mana pun di dunia," tambahnya.
Bukan hanya itu, para penembak jitu tentara dan polisi dipanggil untuk memburu pesawat-pesawat tak berawak itu, yang diduga merupakan pesawat gaya industri, yang terbang di dekat bandara setiap kali mereka mencoba untuk membuka kembali bandara.
Pihak kepolisian menyebut bahwa pelaku belum ditahan dan tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas insiden itu.
Motivasi operator drone sejauh ini masih belum jelas. Namun belum ada dugaan bahwa ini adalah bagian dari aksi terorisme.
"Tidak ada bukti bahwa itu terkait dengan teror dalam pengertian konvensional," kata Grayling.
"Tapi ini jelas semacam aktivitas mengganggu yang belum pernah kami lihat sebelumnya," tambahnya seperti dimuat
Reuters.
[mel]
BERITA TERKAIT: