Peringatan perjalanan yang dikeluarkan pada hari Selasa (21/11) dengan juga memperingatkan ancaman rudal balistik yang ditembakkan oleh kelompok pemberontak dari Yaman ke wilayah kerajaan tersebut.
"Pada tahun lalu, pemberontak telah menembakkan beberapa rudal jarak jauh ke Arab Saudi yang mampu mencapai wilayah Riyadh dan Jeddah, dan mereka telah menyatakan niat mereka untuk terus melakukannya," kata Departemen Luar Negeri.
Rudal terbaru yang ditembakkan ke Arab Saudi mendarat di sebelah utara ibukota, Riyadh, pada tanggal 4 November lalu dan menyebabkan puing-puing jatuh di dekat Bandara Internasional Raja Khalid
Arab Saudi sendiri diketahui telah memimpin sebuah koalisi dalam perang di Yaman sejak Maret 2015, ketika kerajaan kaya minyak tersebut turun tangan untuk mendorong pemberontak Houthi kembali dan mengembalikan pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi.
Departemen Luar Negeri juga melarang pegawai pemerintah Amerika Serikat dan keluarga mereka untuk bepergian ke daerah manapun dalam jarak 50 mil dari perbatasan Saudi-Yaman, termasuk kota-kota Jazan dan Najran.
"Pasukan Yaman juga secara rutin menembakkan artileri ke kota-kota perbatasan Saudi dan melancarkan serangan lintas-perbatasan terhadap personil militer Saudi," katanya.
"Akibatnya, kemampuan Misi Amerika Serikat untuk memberikan bantuan konsuler di wilayah ini terbatas, dan warga Amerika Serikat seharusnya tidak melakukan perjalanan ke daerah ini," sambung pernyataan tersebut seperti dimuat
Al Jazeera.
Selanjutnya, peringatan tersebut juga melarang warga Amerika Serikat pergi ke beberapa daerah yang mudah menguap, seperti Qatif di provinsi timur dan wilayah Al Ahsa, tempat pasukan Saudi melakukan konfrontasi reguler dengan warga minoritas Syiah.
[mel]
BERITA TERKAIT: