Tiga Fakta Soal Teror Maut Di Las Vegas

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Selasa, 03 Oktober 2017, 17:59 WIB
Tiga Fakta Soal Teror Maut Di Las Vegas
Lilin duka cita untuk korban di Las Vegas/Al Jazeera
rmol news logo Teror mematikan yang terjadi di tengah festival musik di Las Vegas awal pekan ini menyita perhatian dunia.

Pasalnya, pelaku menggunakan senapan mesin dan dilakukan di tengah kerumunan orang. Serangan itu juga menyebabkan 59 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya luka-luka. Kasus ini bahkan disebut-sebut sebagai teror paling mematikan dalam sejarah modern Amerika Serikat.

Berikut tiga soal teror di Las Vegas tersebut, seperti dirangkum dari Al Jazeera:

1. Lokasi Serangan


Serangan terjadi di tengah festival musik di depan Hotel Mandalay Bay dan Casino di Las Vegas. Festival musik Route 91 Harvest tersebut dilakukan di ruangan terbuka dan dipenuhi sekitar 22 ribu orang.

Hotel itu sendiri terletak di Las Vegas Strip, sebuah area yang memiliki kasino, hotel dan destinasi wisata turis lainnya.

Serangan sendiri dilakukan dari sebuah kamar di lantai 32 di Hotel Mandalay Bay yang disewa pelaku.

2. Pelaku Serangan


Polisi Metropolitan Las Vegas menyebut bahwa pelaku merupakan seorang pria berusia 64 tahun yang merupakan mantan akuntan bernama Stephen Paddock. Polisi menemukannya telah dalam kondisi tewas, diduga bunuh diri di kamar hotel di mana ia melakukan serangan.

Di lokasi kejadian, polisi juga menemukan 23 senjata api. Sejauh ini diketahui bahwa ia melakukan aksinya seorang diri. Sementara itu, dalam penyelidikan di rumah Paddock di Mesquite, polisi menemukan 19 senjata api. Polisi masih melakukan investigasi rumah lainnya di kota Reno.

Dengan demikian, pelaku diketahui memiliki setidaknya 42 pucuk senjata api berbagai jenis yang masih belum dielaborasi lebih lanjut oleh pihak kepolisian setempat.

Namun demikian, diketahui bahwa ayahnya merupakan buronan perampok bank paling dicari FBI setelah kabur dari penjara di Texas pada tahun 1968. Ia ditemukan tewas tahun 1998 lalu.

3. Motif Serangan


Polisi masih berupaya mencari motif di balik aksi tersebut. Saudara pelaku, Eric mengatakan dirinya tak memiliki ide soal apa motif di balik aksi saudaranya tersebut.

"(Pelaku) tidak memiliki afiliasi, agama, politik. Ia bahkan tidak tertarik dengan hal semacam itu," kata Eric.

Bahkan ia menjelaskan bahwa saudaranya tersebut memiliki cukup uang sehingga kerap ikut berlayar dan bermain judi. Pelaku pun tidak memiliki catatan kriminal.

Bukan hanya itu, pelaku juga tak memiliki catatan masalah mental dan FBI menyebut bahwa tidak ada koneksi antara pelaku dengan kelompok bersenjata lainnya. Sejauh ini, asumsi yang muncul adalah ia melakukan aksinya sendiri. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA