Begitu laporan dari peneliti Australia. Mereka sangat menyesali bahwa pesawat tersebut tidak bisa ditemukan.
"Hal ini hampir tak terbayangkan dan tentu saja tidak dapat diterima secara sosial di era penerbangan modern dengan 10 juta penumpang naik pesawat komersial setiap hari, karena sebuah pesawat komersial besar hilang dan bagi dunia untuk tidak mengetahui dengan pasti apa yang terjadi pada pesawat terbang dan pesawat yang berada di kapal tersebut," begitu kata Biro Keselamatan Transportasi Australia dalam sebuah pernyataan (Selasa, 3/10).
"Terlepas dari upaya luar biasa dari ratusan orang yang terlibat dalam pencarian dari seluruh dunia, pesawat belum ditemukan," tambah laporan tersebut.
Laporan terakhir mereka mengulangi perkiraan dari bulan Desember dan April bahwa pesawat Boeing 777 kemungkinan terletak 25.000 km persegi ke utara zona pencarian sebelumnya di Samudra Hindia bagian selatan.
MH370 menghilang pada tahun 2014 saat terbang ke Beijing dari Kuala Lumpur dengan 239 orang di dalamnya.
Pencarian untuk jet tersebut, yang juga melibatkan Malaysia dan China, dibatalkan pada bulan Januari setelah 1.046 hari.
Perburuan nasib pesawat tersebut menjadi salah satu pencarian permukaan dan bawah laut terbesar dalam sejarah penerbangan.
Setelah pencarian permukaan awal 52 hari gagal, penyidik ​​menggali dasar laut dan akhirnya mengesampingkan area seluas lebih dari 120.000 km persegi.
Pada tahun 2015 dan 2016, puing-puing yang dicurigai dari MH370 terdampar di pulau-pulau di Samudra Hindia dan pantai timur Afrika.
Penyidik ​​datang dengan lokasi kemungkinan saat ini setelah menganalisis pemodelan drift dan data satelit. Demikian seperti dimuat
BBC.
[mel]