Langah itu diambil terkait dengan postingan Facebook Li mengenai perseteruan keluarga yang sedang berlangsung.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, Kejaksaan Agung (AGC) mengatakan bahwa mereka mengajukan permohonan untuk menuntut Li Shengwu melalui sebuah posting Facebook bulan Juli di mana dia menuduh pemerintah Singapura secara serampangan membatasi kebebasan berbicara atas masalah tersebut.
Li, seorang akademisi di Harvard University, adalah anak tertua dari Lee Hsien Yang, anak bungsu dari Lee Kwan Yew dan keponakan dari Perdana Menteri Singapura saat ini, Lee Hsein Loong.
Di akun Facebooknya, ia juga memasang tautan ke ringkasan soal perseteruan antara ayahnya, bibi dan pamannya.
Kantor jaksa agung menggambarkan postingan Li di Facebook merupakan bentuk serangan mengerikan dan tidak berdasar terhadap Peradilan Singapura dan merupakan penghinaan terhadap pengadilan.
Li diminta untuk menghapus pos tersebut dan menandatangani sebuah pernyataan permintaan maaf.
Menanggapi hal tersebut, Li tidak secara langsung meminta maaf, melainkan mengklarifikasi komentarnya di sebuah postingan dengan menyebut bahwa niatnya bukanlah untuk menyerang peradilan.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya akan berusaha membela diri melalui perwakilan hukumnya di Singapura. Namun ia sendiri tidak akan kembali ke negaranya tersebut.
"Saya tidak berniat untuk kembali ke Singapura, saya memiliki kehidupan bahagia dan pekerjaan yang memuaskan di AS," katanya seperti dimuat Channel News Asia akhir pekan ini.
Perselisihan di antara tiga anak Lee Kuan Yew, yakni Lee Hsien Loong, Eksekutif perusahaan Lee Hsien Yang dan ahli saraf Lee Wei Ling, berpusat pada apa yang harus dilakukan dengan rumah ayah mereka yang berusia satu abad.
Lee Kuan Yew, yang secara luas dikreditkan dengan mengubah Singapura dari koloni Inggris menjadi salah satu negara terkaya di Asia, menyatakan keinginannya untuk merobohkan rumah tersebut demi menghindari pembangunan kultus kepribadian di sekitarnya.
Tapi kakak Lee Hsien Loong mengatakan bahwa langkah itu dilakukan Lee karena ada agenda politik di baliknya. Hal itu berulang kali dibantah oleh Lee Hsein Loong. [mel]
BERITA TERKAIT: