
Warga Rwanda menggunakan hak pilihnya dalam pemilu yang digelar hari ini (Jumat, 4/8). Pemilu tersebut digelar untuk memilih presiden di mana diperkirakan incumbent, Paul Kagame akan menang telak setelah 17 tahun berkuasa.
Paul Kagame pernah kebanjiran pujian setelah memimpin pemulihan ekonomi yang damai dan cepat di negara kecil di Afrika Tengah itu pasca genosida yang terjadi tahun 1994 itu di mana sekitar 800.000 orang Tutsi dan Hutu moderat dibunuh.
Namun kemudian ia menghadapi kecaman karena dugaan dari kritikus dan kelompok HAM yang menyebut adanya pelanggaran HAM yang dilakukan Kagame pada pemberontakan media independen dan penindasan oposisi politik.
Beberapa lawan politik terbunuh setelah mereka melarikan diri ke luar negeri, dalam kasus yang masih belum terpecahkan. Pemerintah membantah terlibat dan kasus tersebut tampaknya tidak berbuat banyak untuk menghalangi posisi domestik Kagame di antara 12 juta warga Rwanda.
Lawan utama Kagame, Frank Habineza menggunakan hak pilihnya di Kigali. Ia mengatakan bahwa kampanyenya telah tertatih-tatih karena tidak dapat bersaing dengan mesin negara.
"Semua struktur negara termasuk partainya, tidak mudah tapi kami juga kuat," katanya seperti dimuat
Reuters.
[mel]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: