Menteri Pertahanan Filpina Delfin Lorenzana mengungkapkan penyesalannya.
"Kemarin kami mengalami tragedi yang melibatkan pasukan kami, sekelompok tentara, terkena serangan udara kami. Kami kehilangan orang, 10 terbunuh dan 8 terluka," kata Lorenzana seperti dimuat
BBC.
Presiden Rodrigo Duterte mengumumkan darurat militer di pulau Mindanao selatan, di mana Kota Marawi berada, pekan lalu.
Hal itu dipicu oleh upaya penangkapan seorang pemimpin militan tinggi oleh tentara Filipina.
Pasca pengumuman tersebut, Filipina melancarkan serangan untuk menangkap Isnilon Hapilon, seorang militan Filipina yang terdapat dalam daftar tersangka teror yang paling dicari di Amerika Serikat.
Pihak berwenang mengatakan puluhan pejuang berjuang untuk melindunginya, dan kemudian menyerang bagian-bagian kota dengan populasi 200.000 orang, serta mengambil sandera.
Militer Filipina sejak itu telah menggunakan angkatan bersenjata dan serangan udara helikopter untuk mengusir gerilyawan.
Sebagian besar warga sipil telah meninggalkan Marawi, sementara sekitar 2.000 orang masih terjebak.
Lorenzana menambahkan bahwa di antara militan yang telah terbunuh ada beberapa pejuang dari setidaknya lima negara lainnya termasuk Saudi, Yaman dan Chechen.
[mel]
BERITA TERKAIT: