Secara tidak langsung Clinton membandingkan Trump dengan mantan presiden Richard Nixon, yang mengundurkan diri pada 1974 untuk lolos dari pemakzulan.
Meski tak menyebut nama Trump, Clinton secara implisit membandingkan Trump dengan Nixon, presiden Republik yang diturunkan oleh skandal Watergate.
Nixon pada saat itu memecat Jaksa Agung, langkah itu dibandingkan dengan pemecatan Direktur FBI James Comey oleh Trump.
Comey sendiri diketahui tengah sedang menyelidiki campur tangan Rusia dalam pemilihan tahun lalu dan kemungkinan kolusi dalam kampanye Trump.
Mantan ibu negara tersebut mengatakan bahwa kelasnya tahun 1969 sangat marah dengan pemilihan Nixon.
"Seorang pria yang kepresidenannya pada akhirnya akan berakhir dengan aib dengan impeachment-nya untuk menghalangi keadilan," kata Clinton.
"Anda lulus pada saat ada serangan tuntas terhadap kebenaran dan alasan. Masuklah ke media sosial selama 10 detik, akan membuat Anda tepat di depan," jelanya.
"Orang-orang menyangkal sains, meramu teori konspirasi yang sangat rumit. Mengembangkan ketakutan yang merajalela tentang imigran berdokumen, Muslim, minoritas, orang miskin," tambahnya.
Ia pun menyebut anggaran federal yang diusulkan Trump sebagai sebuah serangan kekejaman yang tak terbayangkan pada pendidikan publik, perawatan kesehatan mental yang paling buruk.
"Itu penting karena jika pemimpin kita berbohong tentang masalah yang kita hadapi, kita tidak akan pernah menyelesaikannya. Itu penting karena ini meruntuhkan kepercayaan pada pemerintah secara keseluruhan," tegas Clinton seperti dimuat
Reuters.
[mel]
BERITA TERKAIT: