UNICEF memperingatkan bahwa pada tahun kedua perang di Yaman, anak-anak terus menjadi korban tak berdosa karena kelaparan dan tidak adanya pasokan makanan yang memadai.
Dalam laporan terbaru, UNICEF menemukan banyak anak Yaman yang memiliki tubuh sangat ramping dan pertumbuhan yang terhambat akibat kekurangan gizi. Pertempuran dan kehancuran telah memaksa warga Yaman untuk membeli makanan yang lebih murah atau melewatkan makan, sementara sekitar 80 persen dari keluarga berada dalam utang atau meminjam uang hanya untuk memberi makan anak-anak mereka.
UNICEF menyebut ada 2,2 juta anak Yaman yang menderita gizi buruk akut dan membutuhkan perawatan mendesak. Anak-anak yang menderita kekurangan gizi akut berat sepuluh kali lebih mungkin meninggal dibandingkan rekan-rekan mereka yang sehat karena sistem kekebalan tubuh mereka melemah dan meninggalkan mereka rentan terhadap penyakit. Kondisi ini mengancam jiwa anak-anak tersebut.
Terlepas dari kematian yang disebabkan langsung oleh pertempuran, UNICEF mengutip perkiraan PBB sebelumnya memperingatkan bahwa setidaknya satu anak Yaman meninggal akibat kekurangan gizi, diare, dan infeksi saluran pernapasan setiap 10 menit.
Perang Yaman, yang meletus pada tahun 2015 setelah Arab Saudi memimpin intervensi untuk mengembalikan presiden yang digulingkan Abd Rabbuh Mansour Hadi. Konflik itu sejauh ini telah menyebabkan sekitar 1.546 anak-anak tewas, 2.450 anak-anak cacat dan 235 diculik selama permusuhan, sementara 1.572 anak telah direkrut sebagai tentara anak untuk bergabung dalam pertempuran.
[mel]
BERITA TERKAIT: