
Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menekankan perlunya sikap saling menghormati sebagai dasar dari hubungan dengan Filipina.
Hal itu dikemukakan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat Mark Toner di Washington awal pekan ini.
Hal itu disampaikan menyusul pernyataan Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang menyebut tentang kekhawatiran akan masa depan aliansi kunci dan menyebut Obama sebagai "son of a bitch."
"Kata-kata adalah hal yang penting dan kami ingin melihat suasana ramah dan terbuka untuk kerjasama yang kuat," kata Toner seperti dimuat Reuters (Rabu, 7/9).
Ia juga menyebut bahwa pertemuan pertama yang direncanakan antara Obama dan Duterte di sela-sela pertemuan puncak regional di Laos pada Selasa dibatalkan karena nada retorika pemimpin Filipina mengangkat pertanyaan tentang kemungkinan pembicaraan produktif.
Sejak memimpin, Duterte diketahui kerap mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial. Sebelumnya ia pernah menyebut Paus Fransiskus sebagai "son of a whore" dan duta besar Amerika Serikat sebagai "gay son of whore."
Filipina menyuarakan penyesalan untuk komentar Duterte setelah Obama membatalkan pertemuan bilateral formal. Gedung Putih kemudian mengatakan Obama mungkin berbicara dengan Duterte secara informal.
[mel]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: