Begitu hasil dari indeks global terbaru yang dirilis oleh perusahaan analisis resiko Verisk Maplecroft (Kamis, 11/8).
Indeks tersebut menemukan bahwa 115 negara di dunia berada dalam level beresiko tinggi menggunakan budak.
Indeks itu dibuat berdasarkan penelitian dengan menilai kasus perdagangan manusia atau perbudakan, hukum nasional serta kualitas penegakkan hukum di 198 negara.
Dalam indeks tersebut, negara yang menempati posisi pertama adalah Korea Utara. Negara tersebut dinilai memiliki catatan terburuk dari kerja paksa di dunia.
"Hanya sedikit negara di dunia yang benar-benar kebal terhadap perbudakan modern," kata Alex Channer, analis yang memimpin penelitian hak asasi manusia di Verisk Maplecroft.
Data tersebut senada dengan temuan Global Slavery Index by rights group Walk Free Foundation 2016 yang menyebut bahwa hampir 46 juta orang di seluruh dunia hidup sebagai budak, dipaksa untuk bekerja di pabrik-pabrik, tambang dan pertanian, dijual untuk seks, terjebak dalam jeratan hutang atau lahir dalam perbudakan.
Permudakan modern sendiri merupakan istilah untuk menggambarkan perdagangan manusia, kerja paksa, perbudakan utang, perdagangan seks, perkawinan paksa dan eksploitasi seperti budak lainnya.
Channer mengatakan bahwa indeks Verisk Maplecroft ini bertujuan untuk membantu bisnis dalam mengidentifikasi negara-negara paling berisiko tenaga kerja budak.
[mel]
BERITA TERKAIT: