Hal itu siap dilakukan Korea Utara bila ada tanda operasi pasukan khusus musuh yang bergerak menargetkan markas tertinggi Korea Utara.
Dikap tersebut juga merupakan respon atas langkah Amerika Serikat, Korea Selatan dan sejumlah negara lainnya yang tengah menggodok sanksi baru di ranah Dewan Keamanan PBB untuk Korea Utara. Sanksi baru itu dipersiapkan menyusul sikap Korea Utara yang melakukan uji coba bom hidrogen serta peluncuran satelit luar angkasa beberapa waktu lalu.
"Pihak berwenang Amerika Serikat dan Korea Selatan saat ini tengah mengemudikan situasi di Semenanjung Korea ke arah jurang perang," begitu kata pernyataan dari Korean Committee for Solidarity with the World People, Societies for Friendship with the Asia-Pacific People dan Korea-Asia Pacific Exchange dalam pernyataan yang diterim redaksi (Kamis, 25/2).
Dalam pernyataan juga disebutkan bahwa bagi warga Korea Utara, markas tertinggi revolusi lebih berharga ketimbang nyawa mereka sendiri. Hal itulah yang membuat warga Korea Utara siap untuk melindungi negara serta markas revolusinya.
Diketahui bahwa Korea Utara telah berada di bawah sanksi PBB sejak tahun 2006 lalu karena melakukan uji coba nuklir dan sejumlah peluncuran roket. Selain embargo senjata, PBB juga melarang Korea Utara mengimpor serta mengekspor teknologi nuklir dan rudal serta barang-barang mewah.
Saat ini, sejumlah negara tengah melakukan pembahasan soal rencana penerapan sanksi baru bagi Korea Utara. Hal itu dilakukan menyusul sikap Korea Utara yang meluncurkan satelit observasi bumi ke luar angkasa awal Februari lalu. Namun Amerika Serikat dan sekutunya menilai bahwa Korea Utara telah melalukan peluncuran roket.
Selain itu, pertengahan Januari lalu juga Korea Utara membuat geger dengan melakukan uji coba bom hidrogen di bawah tanah.
[mel]
BERITA TERKAIT: