Menurut data dari think tank militer, Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) dalam laporan soal transfer senjata global yang dirilis pada hari ini (Senin, 22/2) menyebut bahwa dalam kurun waktu 2011 hingga 2015, impor senjata China turun hingga 25 persen bila dibanding dengan periode lima tahun sebelumnya menandakan adanya kepercayaan yang berkembang dalam pertumbuhan industri senjata dalam negeri.
Dalam periode yang sama, ekspor senjata China tumbuh hingga 88 persen. Dengan demikian, China menyumbang 5,9 persen dari ekspor senjata global selama tahun 2011 hingga 2015. China berada di urutan ketiga di belakang Amerika Serikat dan Rusia, dua negara eksportir terbesar senjata di dunia.
"China sampai sepuluh tahun yang lalu hanya mempu menawarkan peralatan berteknologi rendah. Hal itu telah berubah," kata peneliti senior SIPRI Siemon Wezeman.
" Peralatan yang mereka hasilkan jauh lebih sangat maju dari sepuluh tahun yang lalu , dan menarik minat dari beberapa pasar yang lebih besar," sambungnya seperti dimuat
Reuters.
China sendiri diketahui telah menginvestasikan miliar dolar AS untuk mengembangkan industri senjata dalam negeri demi mendukung ambisi maritim yang berkembang di Laut China Selatan dan Samudera Hindia. Total anggara militer China pada tahun 2015 kemarin saja mencapai 886,9 miliar yuan atau setara dengan 141,45 miliar dolar AS< naik 10 persen bila dibandingkan dengan anggaran tahun sebelumnya.
Sebagian besar dari produksi senjata China diekspor ke negara-negara Asia dan Oceania. 35 persen senjata China diekspor ke Pakistan, diikuti oleh Bangladesh dan Myanmar.
[mel]
BERITA TERKAIT: