Begitu kata wakil Perdana Menteri Libya yang baru ditunjuk Ahmed Maiteeq. Ia menyebut bahwa Inggris, Amerika Serikat dan Perancis telah gagal memberikan bantuan yang diperlukan setelah menggunakan militer untuk melengserkan kekuasaan diktator Muammar Gaddafi dari kursi kekuasaan pada tahun 2011 lalu.
Ia menyebut bahwa setelah intervensi tahun 2011 lalu, Inggris dan sekutu tidak memberikan bantuan lanjutan yang diperlukan Libya.
"Kita harus menyebut bahwa Inggris, Amerika Serikat dan Perancis tentu saja ikut campur tangan demi membantu rakyat Libya dan mendukung warga sipil. Saya pikir hal itu harus sangat dihargai," kata Maiteeg.
"Namun apa yang salah setelah itu juga harus kita bahas, ada banyak kesalahpahaman. Orang-orang berpikir bahwa Libya memiliki lembaga yang stabil dan kuat, padahal hal ini tidak terjadi," sambungnya.
Ia menyebut bahwa Gaddafi telah memimpin Libya selama 42 tahun. Sehingga ketika ia dilengserkan paksa dari kursi Presiden Libya tahun 2011 lalu, seluruh struktur negara di Libya pun menjadi berantakan.
"Setelah ia (Gaddafi) pergi, kami tidak mendapatkan bantuan yang tepat dari teman-teman dan sekutu kita dari Barat dan juga Inggris," jelasnya.
Maiteeg menegaskan bahwa saat ini yang dibutuhkan oleh negaranya adalah sekutu untuk membangun kembali lembaga serta struktur pemerintahan dengan cara yang benar.
"Mereka melakukan hal yang benar pada waktu itu (tahun 2011) untuk membantu Libya tapi bantuan ini tidak berkelanjutan untuk jangka waktu tertentu," sambungnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: