Gadis remaja berusia 14 tahun itu bernama Reem Sahwil. Pada bulan Juli lalu ia hadir dalam acara debat yang juga dihadiri oleh Merkel. Dalam acara tersebut ia menitikkan air mata saat menjelaskan bahwa ia dan keluarganya datang ke Jerman empat tahun lalu setelah sebelumnya tinggal di kamp pengungsi Lebanon. Ia menyebut bahwa saat ini ia dan keluarganya tengah menghadapi ancaman deportasi. Sahwil menceritakan kisahnya tersebut dalam bahasa Jerman di hadapan Merkel.
"Saya punya tujuan seperti orang lain. Saya ingin belajar seperti mereka. Sangat menyenangkan saat melihat bagaimana orang lain dapat menikmati hidup mereka," katanya kepada Merkel saat itu sambil menangis.
Merkel pun menanggapinya dengan mengatakan kepada Sahwil bahwa ia bisa mengerti keadaannya. Namun masalah pengungsi tidak sederhana dan ranah politik terkadang rumit.
"Kita tidak bisa mengatasi dengan cara itu," kata Merkel seperti dimuat
The Guardian.
Kabar terbaru dari seorang sumber dari bagian imigrasi menyebut bahwa Sahwil dan keluarganya saat ini bisa sedikit bernafas lega. Pasalnya pemerintah Jerman memberikan izin perpanjangan tinggal bagi Sahwil dan keluarganya hingga maksimal Oktober 2017 mendatang.
[mel]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: