Amerika Serikat menolak mengakui eksistensi Korea Utara sebagai bangsa yang merdeka, dan memilih membentuk pemerintahan boneka di selatan Semenanjung Korea.
"Kebijakan Amerika Serikat yang dipenuhi kebencian terhadap RDRK memiliki akar yang dalam," tulis Kantor Berita Korea Utara
KCNA dalam artikel yang mereka rilis baru-baru ini untuk menyambut peringatan 70 tahun Hari Pembebasan Korea yang jatuh pada tanggal 15 Agustus.
Jauh sebelum mempersoalkan nuklir Korea Utara, Amerika Serikat merancang kebijakan luar negeri yang dipenuhi rasa benci untuk memojokkan dan mengisolasi Korea Utara dari pergaulan dunia.
"Sebegitu bencinya pada Korea Utara, Amerika Serikat tidak pernah memanggil negara ini dengan nama resminya, apalagi ingin menjalin hubungan diplomatik."
Perang Korea yang berlangsung antara 1950 hingga 1953 berakhir setelah kedua pihak yang bertikai, RDRK dan PBB, menandatangani perjanjian genjatan senjata. Namun Amerika Serikat terus terus berusaha menjadikan Semenanjung Korea sebagai kawasan yang dipenuhi ketegangan dimana perang bisa saja terjadi kembali setiap saat.
Di bulan November 1953, hanya beberapa bulan setelah penandatanganan perjanjian gencatan senjata di bulan Juli 1953, Amerika Serikat mengubah Korea Selatan menjadi pangkalan militer dan memutus komunikasi kedua Korea. Amerika Serikat pun berusaha sekuat mungkin menciptakan persatuan Korea seperti yang mereka inginkan.
"Amerika Serikat telah mengerjakan sejumlah skenario untuk menginvasi RDRK," sambung
KCNA lagi.
Termasuk dengan menjatuhkan sanksi ekonomi dan memblokade Korea Utara.
"Fakta sejarah memperlihatkan bahwa politik luar negeri AS yang dipenuhi kebencian terhadap RDRK bukan buah dari program nuklir RDRK. Melainkan, hal yang kedua (kepemilikan nuklir) adalah buah dari hal pertama (kebijakan luar negeri AS yang dipenuhi kebencian," demikian
KCNA.
[dem]
BERITA TERKAIT: