Studi: Udara Bersih Selamatkan 2 Juta Nyawa Tiap Tahunnya

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Rabu, 17 Juni 2015, 11:11 WIB
Studi: Udara Bersih Selamatkan 2 Juta Nyawa Tiap Tahunnya
ilustrasi/net
rmol news logo Udara bersih yang bebas dari polusi ternyata memiliki dampak besar bagi keberlangsungan hidup manusia.

Menurut studi terbaru yang dilakukan oleh tim peneliti dari Amerika Serikat, udara bersih di seluruh dunia akan bisa menyelamatkan dua juta jiwa setiap tahunnya.

"Kami terkejut menemukan pentingnya membersihkan udara tidak hanya di bagian paling kotor di dunia, tetapi juga di lingkungan yang lebih bersih seperti Amerika Serikat, Kanada dan Eropa," kata salah seorang peneliti Julian Marshall dari University of Minnesota dalam studi yang dipublikasikan dalam Environmental Science & Technology (Selasa, 16/6) .

Tim peneliti tersebut menemukan bahwa daerah dengan udara yang kotor seperti Tiongkok, India, dan Rusia bisa menyelamatkan hingga 1,4 juta jiwa dengan melakukan langkah untuk menekan polusi seperti standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sementara untuk daerah dengan kualitas udara yang tidak tercemar, udara bersih bisa mengurangi angka kematian dini akibat polusi.

Merujuk pada catatan WHO, polusi terutama jenis partikel kecil bila terhirup bisa menemukan jalan ke paru-paru. Partikel kecil semacam itulah yang bertanggungjawab atas sekitar 3,2 juta kematian setiap tahunnya.

Masih dalam penelitian yang sama, seorang peneliti lainnya yakni Joshua Apte dari University of Texas menjelaskan bahwa timnya fokus pada penelitian partikel yang lebih kecil dari 2,5 mikron. Partikel semacam itu memainkan peran besar dalam penyakit jantung, stroke, dan penyakit paru-paru seperti emphysema dan kanker.

Partikel-partikel kecil itu tercampur ke dalam udara akibat pembakaran batubara di pembangkit listrik tenaga batu bara, dari knalpot mobil dan emisi industri. Sementara itu di negara-negara non-industri, partikel semacam itu muncul dari kebakaran batubara, kayu, dan pembakaran lainnya untuk memasak dan pemanasan rumah.

Di seluruh dunia, kebanyakan orang hidup dalam lingkungan di bawah 10 mikrogram partikel per liter udara. Tingkat tersebut adalah tingkat maksimum yang diizinkan oleh rekomendasi WHO. Tapi di negara industri seperti India dan Tiongkok, tidak sedikit orang yang hidup di atas 100 mikrogram partikel per liter udara.

"Kami ingin menentukan berapa banyak tingkat kebersihan (udara) di berbagai belahan dunia akan perlu untuk secara substansial mengurangi kematian akibat partikel," kata Apte seperti dimuat AFP. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA