Juru bicara Badan Pertahanan Rudal Amerika Serikat Rick Lehner pada Minggu (7/6) mengatakan bahwa tes dilakukan pada Sabtu pekan lalu.
Lehner menyebut bahwa Amerika Serikat menghabiskan dana lebih dari 2 miliar dolar AS untuk program kerjasama itu. Sedangkan Jepang menggelontorkan dana senilai 1 miliar dolar AS.
SM-3 IIA sendiri adalah varian 21-inci dari misil sebelumnya yakni SM-3 yang bekerja dengan sistem tempur Aegis Amerika Serikat yang dibangun oleh Lockheed Martin Corp untuk menghancurkan ancaman rudal balistik yang masuk dalam ruang.
Sementara itu Raytheon sendiri mengatakan bahwa misil baru SM-3 IIA memiliki motor roket yang lebih besar dan kekuatan kendaraan yang lebih sehingga memungkinkan rudal untuk menghadapi ancaman lebih cepat dan melindungi daerah yang lebih besar dari ancaman rudal balistik jarak pendek maupun menengah.
Tes yang digelar akhir pekan lalu mengevaluasi kinerja nosecone misil, kemudi kontrol, dan pemisahan booster-nya.
"Keberhasilan tes ini membuat program sejalan dengan rencana penyebaran di jalur laut dan darat pada tahun 2018," kata presiden sistem rudal Raytheon, Taylor Lawrence seperti dimuat
Reuters.
Ellison mengatakan tiga tahun lagi pengujian yang direncanakan untuk rudal baru sebelum dimasukkan untuk digunakan pada Angkatan Laut kapal Aegis Amerika Serikat, kapal Kongo Jepang dan pada situs Aegis di Polandia dan Rumania. [mel]
BERITA TERKAIT: