Ditulis dalam bahasa arab, sertifikat itu ditandatangani oleh kedua belah pihak, baik istri maupun suami.
Sementara terkait dengan keputusan soal misi bunuh diri itu sendiri tergantung pada perintah pimpinan ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi.
Dalam sertifikat tersebut disebutkan bahwa bila Baghdadi setuju agar pihak istri melakukan misi bunuh diri, maka suami tidak berhak melarangnya.
Menurut penuturan Direktur Pusat Keamanan dan Intelijen Studi di University of Buckingham Profesor Anthony Glees, seperti dimuat
Daily Mail (Rabu, 13/5), sertifikat nikah itu merupakan upaya baru ISIS untuk mengerahkan perempuan ke medan pertempuran dan menggantikan posisi militan laki-laki yang telah banyak tewas.
"Dari perspektif kami, bagaimanapun, fanatisme seperti ini merupakan hal yang bejat dan menjadi pertanda keputusasaan ISIS," tandasnya.
"Seperti Hitler ketika mengerahkan senjata V, ISIS saat ini menggunakan wanita muda dan mengisyaratkan bahwa kesetiaan mereka kepada para pemimpin ISIS lebih besar daripada ke suami mereka," tandas Glees.
[mel]
BERITA TERKAIT: