Jurnalis bernama Yuichi Sugimoto itu merupakan seorang fotografer yang memiliki pengalaman untuk meliput di lokasi konflik selama 20 tahun.
Sebelumnya, pada Februari lalu, pemerintah Jepang menyita paspor Sugimoto setelah ia berencana pergi ke Suriah dan menolak dihentikan. Penyitaan paspor itu membuat Sugimoto geram.
"Mengingat apa yang telah saya lakukan dalam 20 tahun terakhir, saya benar-benar tidak bisa menerima bahwa saya tidak diizinkan untuk melakukan perjalanan ke Suriah dan Irak dan meliput dari sana," kata wartawan berusia 58 tahun itu.
Namun pekan ini, paspor baru Sigomoto diterbitkan. Namun paspor barunya itu melarang Sugimoto untuk pergi ke dua negara konflik Irak dan Suriah dengan alasan keamanan.
Menanggapi pembatasan itu Sugimoto pun protes.
"Saya ingin terus menuntut paspor yang normal yang biasa diterima warga negara biasa," sambungnya seprti dimuat
Press TV (Jumat, 10/4).
Sugimoto sendiri mengatakan bahwa ia telah merencanakan untuk melakukan perjalanan ke kota Kobani Suriah. Kota itu telah dibebaskan oleh para pejuang Peshmerga Kurdi pada tanggal 26 Januari lalu.
Di bawah undang-undang Jepang, pemerintah bisa menyita paspor warga negaranya hanya bila pemerintah yakin bahwa hidup pemegang paspor bisa terancam di negara lain.
[mel]
BERITA TERKAIT: