Begitu kata mantan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dalam kongres partainya, Popular Movement Party (UMP) di Paris pada Sabtu (7/2).
Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa penduduk Krimea telah memilih sendiri untuk bergabung dengan Rusia melalui referendum yang digelar Maret 2014 lalu. Referendum itu sendiri digelar ketika Ukraina tengah dilanda krisis politik menyusul pelengseran Presiden Ukraina Viktor Yanukovych dan pembentukkan pemerintahan baru yang didukung oleh negara-negara Barat.
"Krimea telah memilih Rusia dan kita tidak bisa menyalahkannya telah melakukan itu, kata Sarkozy.
"Kita perlu menemukan makna untuk menciptakan sebuah pasukan penjaga perdamaian untuk melindungi pendudukan berbahasa Rusia di Ukraina," sambungnya.
Sarkozy menyebut harapannya agar Ukraina tidak bergabung dengan Uni Eropa dalam waktu dekat.
"Ukraina harus menjaga perannya sebagai jembatan antara Eropa dan Rusia," tambah Sarkozy seperti dimuat
Press TV.
Diketahui, Krimea semula merupakan bagian dari Ukraina di mana mayoritas penduduknya berbahasa Rusia.
Krimea telah mendeklarasikan diri untuk bergabung dengan Rusia pada tanggal 17 Maret 2014. Langkah itu diambil menyusul referendum yang digelar sehari sebelumnya. Dalam referendum itu didapati bahwa 96,8 persen partisipan memilih mendukung pemisahan diri tersebut.
[mel]
BERITA TERKAIT: