"Saya
ingin menulis penyesalan Jepang atas perang, sejarah pasca perang
sebagai bangsa yang cinta damai dan bagaimana hal itu bisa berkontribusi
untuk kawasan Asia Pasifik dan dunia," kata Abe dalam konferensi pers
pertamanya tahun ini (Senin, 5/1).
Pernyataan itu sendiri
diperkirakan akan dikeluarkan Abe dalam perayaan 70 tahun berakhirnya
Perang Dunia II pada bulan Agustus mendatang.
Japan Times
memuat, dalam mempersiapkan pernyataan penyesalan terbaru itu,
pemerintah Jepang akan melakukan pengawasan ketat. Pasalnya, pernyataan
tersebut memiliki implikasi yang kuat bagi hubungan bilateral Jepang
dengan Tiongkok dan juga Jepang dengan Korea Selatan.
Perlu
diketahui, Tiongkok dan Korea Selatan merupakan negara yang memiliki
keterkaitan sejarah dengan Jepang. Korea Selatan, khususnya, kerap
menuntut permintaan maaf atas kejahatan perang yang dilakukan selama
pendudukan Jepang di Korea semasa Perang Dunia II, terutama terkait
perbudakan seksual wanita-wanita Korea.
Tiongkok dan Korea
Selatan agaknya menanti pernyataan penyesalan Abe ini, apakah juga akan
sejalan dengan Murayama Statement (Pernyataan Muaryama) 1995.
Perlu
diketahui, Pernyataan Murayama adalah pernyataan permintaan maaf
resmi yang dikeluarkan semasa pemerintahan Perdana Menteri Jepang
ke-81, Tomiichi Murayama dalam peringatan 50 tahun berakhirnya Perang
Dunia II tahun 1995 lalu.
Pernyataan resmi semacam itu
menunjukkan sikap serta posisi pemerintah Jepang atas catatan
sejarahnya. Hal itu merupakan salah satu faktor utama yang
mempengaruhi hubungan bilateral Jepang dengan Korea Selatan ataupun
Jepang dangan Tiongkok.
Ketika ditanya, apakah akan juga
menegakkan Pernyataan Murayama, Abe hanya menyebut bahwa pemerintahannya
telah dan akan menegakkan pernyataan yang dkeluarkan oleh pemerintah
di masa lalu.
Abe menambahkan, pernyataan terbaru yang akan ia
keluarkan merupakan bentuk keinginan Jepang untuk secara proaktif
berkontribusi dalam perdamaian dunia.
[mel]
BERITA TERKAIT: