Begitu bunyi laporan yang dirilis oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi atau IOM berjudul "Fatal Journeys-Tracking Lives Lost during Migration" awal pekan ini.
Dari total korban jiwa itu, lebih dari setengahnya, atau sekitar 22 ribu orang tewas ketika dalam perjalanan menuju Eropa, hampir 6 ribu lainnya tewas di sepanjang perbatasan Amerika Serikat-Meksiko. Sedangkan sekitar 3 ribu orang tewas dalam rute migrasu termasuk Gurun Sahara dan wilayah perairan Samudera Hindia.
"Ini adalah waktu untuk melakukan lebih dari pada menghitung jumlah korban. Ini adalah waktu bagi dunia untuk terlibat menghentikan kekerasan terhadap migran yang putus asa," kata Direktur Jenderal IOM William Lacy Swing.
Dengan isu serupa, kelompok HAM Amnesty International dalam laporan yang dirilis kemarin (Selasa, 30/10), menuding Uni Eropa telah memaksakan tes kelangsungan hidup pada para pengungsi dan migran. Hal itu merujuk pada penelitian soal korban tewas di wilayah Mediterania sepanjang tahun ini yang telah merenggut setidaknya 2.500 orang.
"Dengan tidak adanya rute yang aman dan teratur ke Eropa, mengambil resiko tenggelam di tengah Mediterania adalah harga yang harus dibayar oleh pengungsi dan migran demi mengakses suaka atau kesempatan kerja," kata laporan tersebut dikutip
CNN.
Kelompok tersebut juga menyerukan agara Eropa berbuat lebih banyak untuk meredam angka kematian itu, mengingat konflik dan kerusuhan yang masih banyak terjadi di negara-negara Timur Tengah dan Afrika. Hal itu memicu lebih banyak orang yang memilih mengambil resiko dengan melakukan perjalanan berbahaya terutama melalui laut untuk mencari suaka atau perlindungan yang lebih aman.
[mel]
BERITA TERKAIT: