"Dari sisi sejarah peradaban Islam, ide yang dibangun adalah sistem khalifah, tapi kalau melihat perkembangan politik Islam dari masa Rasulullah, tidak pernah ada sebuah sistem yang diberlakukan oleh nabi," kata Rektor Universitas Muhammadiyah Cirebon Prof. Dr. Khaerul Wahidin kepada
RakyatMerdekaOnline beberapa saat lalu (Rabu, 1/10).
Ia menjelaskan, pada masa Nabi, sistem yang dibangun cenderung adalah teokrasi. Kemudian pada masa Khulafaur Rasyidin, sistem berubah menjadi perwakilan (otokrasi). Hingga awal jaman modern yang ditandai oleh revolusi yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Atatürk pun, sambungnya, sistem khalifah tidak didirikan.
"Jadi kalau ISIS berangkat dari historis dengan dalih membangun khalifah dengan membawa doktrin Islam tidak ketemu akarnya," jelasnya.
Ia mengkritisi, nama Islam yang dibawa-bawa oleh ISIS melenceng dari nilai murni Islam soal membangun masyarakat yang makmur dan adil.
"Dari pemberitaan yang dimunculkan justru terlihat (ISIS) menyengsarakan," kata Khaerul.
Lebih lanjut ia mengapresiasi upaya internasional yang masih terus dilakukan untuk memberantas ISIS, baik melalui serangan udara ataupun bentuk dukungan lainnya. Namun ia masih mempertanyakan kepentingan yang dibawa, terutama oleh negara-negara Barat dalam memberikan dukungan tersebut.
"Apakah benar untuk menjaga perdamaian dunia dengan menumpas ISIS? Atau ada muatan-muatan kepentingan lainnya," tandasnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: