Pemerintah setempat menyatakan, jam malam yang diberlakukan sejak tiga hari terakhir itu berhasil dilakukan dan tidak akan di perpanjang.
Diketahui sejak Jumat pekan lalu, sebagian besar warga Sierra Leone diminta untuk tinggal di rumahnya agar relawan medis dapat lebih mudah menjaring atau menemukan pasien lainnya yang terinveksi Ebola serta membagikan sabun sebagai salah satu bentuk penanggulangan penyebaran virus tersebut. Ada sekitar 30 ribu relawan medis yang terlibat dalam melakukan hal itu.
Hasilnya, menurut Wakil Kepala Dinas Kesahatan Sarian Kamara, ada 22 kasus baru yang ditemukan atas hasil penerapan jam malam itu.
"Bila mereka tidak ditemukan, mereka akan lebih meningkatkan penyebaran," katanya dikutip
BBC.
Ia juga menambahkan, selama masa jam malam itu, ada sekitar 60 hingga 70 korban tewas akibat Ebola dimakamkan. Pemakaman para korban Ebola tidak dapat dilakukan sembarangan. Pasalnya, jasad korban Ebola masih dapat menularkan virus bila dikubur secara cepat atau tidak tepat.
Sierra Leone merupakan salah satu negara di Afrika Barat yang terkena dampat terburuk Ebola. Dari keseluruhan korban tewas akibat Ebola di Afrika Barat yang berjumlah sekitar 2.600, sekitar 550 di antaranya berasal dari Sierra Leone.
[mel]