Badan Kesehatan Dunia WHO memperingatkan, kendati belum terbukti, namun darah dari korban selamat disebut-sebut memiliki antibodi yang dapat melawan virus tersebut.
"Studi menunjukkan transfusi darah dari korban selamat mungkin bisa membantu mencegah atau mengobati infeksi virus Ebola pada orang lain, tetapi hasil studi masih sulit untuk ditafsirkan," kata pernyataan WHO dikabarkan
BBC (18/9).
"Belum diketahui apakah antibodi dalam plasma korban cukup untuk mengobati atau mencegah penyakit. Masih perlu penelitian lebih lanjutan," sambungnya.
Diketahui darah dari korban selamat telah digunakan untuk mengobati pasien, termasuk pekerja bantuan asal Amerika Serikat Rick Sacra yang dirawat di rumah sakit di Omaha, Nebraska. Ia mendapatkan transfusi darah dari sesama warga Amerika Serikat yang terlebih dahulu berhasil pulih dari Ebola.
Berbeda dengan situasi tersebut, pasien-pasien di negara-negara yang terkena dampak terparah Ebola seperti Sierra Leone, Guinea, dan Liberia mendapatkan darah dari korban selamat melalui saluran yang tidak tepat yakni pasar gelap. Hal itu dikhawatirkan akan menyebabkan penyebaran infeksi lainnya, termasuk HIV dan penyakit yang berhubungan dengan darah lainnya.
"Kita perlu bekerja secara ketat dengan negara-negara yang terkena dampak untuk membendung perdagangan pasar gelap," himbau Direktur Jenderal WHO, Margaret Chan.
[mel]
BERITA TERKAIT: