Presiden Iran: ISIS Biadab, AS Konyol

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Kamis, 18 September 2014, 11:48 WIB
Presiden Iran: ISIS Biadab, AS Konyol
Hassan Rouhani/net
rmol news logo Presiden Iran Hassan Rouhani menyebut aksi yang dilakukan oleh kelompok militan ISIS merupakan hal yang biadab. Namun demikian, bukan berarti Rouhani mendukung upaya Amerika Serikat yang membuat koalisi dan melakukan serangan udara demi meredam ISIS. Rouhani justru menyebut tindakan yang dilakukan oleh Amerika Serikat adalah hal yang konyol.

"Apakah warga Amerika takut menjatuhkan korban di tanah Irak? Apakah mereka takut tentara mereka tewas dalam pertempuran yang mereka klaim adalah untuk memerangi terorisme," kata Rouhani dalam sebuah wawancara ekslusif dengan NBC News di istana presiden di Teheran pada Rabu (17/9).

"Bila mereka ingin menggunakan pesawat dan bila mereka ingin menggunakan pesawat tak bernama, sehingga tak seorang pun terluka dari pihak Amerika, apakah mungkin untuk melawan terorisme tanpa kesulitan, tanpa pengorbanan apapun?," sambung Rouhani menyidir serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat untuk melawan ISIS.

Kendati demikian, ia menggarisbawahi, bahwa serangan udara bisa saja diperlukan dalam kondisi dan situasi tertentu.

"Bagaimanapun, serangan udara dapat dilakukan dengan seizin warga negara itu serta pemerintah negara tersebut," lanjutnya.

Ketika ditanya soal kasus eksekusi yang dilakukan dengan cara memenggal kepala sejumlah warga negara Amerika Serikat dan Inggris yang dilakukan ISIS beberapa waktu lalu, Rouhani menyebut hal itu sebagai tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

"Mereka ingin membunuh umat manusia, dan dari sudut pandang ajaran dan budaya Islam, membunuh seorang orang yang tidak bersalah sama dengan pembunuhan seluruh umat manusia.," tegas Rouhani.

Rouhani juga menyebut bahwa koalisi internasional yang saat ini tengah dibangun oleh Amerika Serikat mencakup negara yang membantu ISIS dengen pasokan senjata ataupun pelatihan. Namun Rouhani enggan menjabarkan lebih lanjut soal negara apa yang ia maksudkan.

"Ketika kita menyebut garis merah, maka maksud kami adalah garis merah," kata Rouhani. "Itu berarti kita tidak akan mengijinkan Baghdad untuk diduduki oleh teroris atau tempat ibadah seperti Karbala dan Najaf diduduki oleh teroris," tegasnya. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA