Sotloff yang dibesarkan di Miami oleh sang ibu Shirley itu diketahui sempat mengenyam pendidikan jurnalisme di University of Central Floridaa.
Rekan-rekan Sotloff menyebut, ia fasih berbahasa Arab dan menunjukkan ketertarikannya yang besar atas dunia Islam. Sotlof sendiri sempat menyebut bahwa ia sadar akan risiko yang bisa didapatkannya ketika hendak meliput di Timur Tengah. Ia diketahui diculik di wilayah Sariah sejak akhir tahun 2013 lalu
"Satu juta orang bisa mengatakan kepadanya apa yang dia lakukan adalah bodoh, tapi itu tidak akan menghentikannya," kata seorang teman Sotloff, Emerson Lotzia.
"Steve menyebut, menakutkan di sana. Itu berbahaya dan tidak aman. Ia mengetahui itu dan tetap pergi," sambungnya dikutip
Daily Mail (Rabu, (3/9).
Diketahui, Sotloff adalah jurnalis kedua yang dieksekusi oleh kelompok militan ISIS dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Eksekusi dirinya oleh seorang militan yang fasih berbicara dengan logat British itu dijadikan ancaman bagi Amerika Serikat yang masih melancarkan serangan udara ke wilayah Irak untuk memerangi ISIS.
[mel]
BERITA TERKAIT: