Para peneliti yang terlibat dalam penelitian obat eksperimental itu menyebut, pembuktian itu merupakan satu langkah maju yang sangat penting bagi penanganan wabah yang tengah merebak di kawasan Afrika Barat.
ZMapp sendiri dijuluki sebagao "serum rahasia" karena masih dalam tahap percobaan pengembangan dan belum ada data publik yang menunjukkan efektivitas obat tersebut. Penggunaan obat ekperimental itu telah mendapat persetujuan dari badna kesehatan dunia WHO demi menangani wabah yang telah menewaskan lebih dari 1.500 orang sejak mulai merebak di Guinea.
Para peneliti menyelidiki berbagai kombinasi antibodi atau kekebalan tubuh yang membantu menghalau masuknya virus Ebola. Kombinasi itu kemudian diujicobakan dan menunjukkan efektivitas pada hewan percobaan.
Ketika diujicobakan kepada 18 kera yang terinveksi Ebola, 100 persen terbukti dapat bertahan hidup.
Salah satu peneliti, Dr Gary Kobinger dari Badan Kesehatan Masyarakat Kanada mengatakan, pembuktian tersebut adalah langkah besar dari kombinasi antibodi sebelumnya.
"Apa yang sangat luar biasa adalah bahwa kita bisa menyelamatkan beberapa hewan yang memiliki penyakit parah," jelasnya dikutip
BBC (Jumat, 29/8).
Namun persediaan obat eksperimental yang masih terbatas itu diperkirakan belum dapat menjangkau sekitar 20 ribu orang yang terinveksi Ebola di Afrika Barat.
[mel]
BERITA TERKAIT: