Sebagai bentuk dukungan, Menlu dari Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia yang biasa disebut MIKTA itu membuat pernyataan bersama pada Sabtu (26/7).
Dalam pernyataan bersama, mereka menunjukkan dukungan bagi resolusi Dewan Kemanan PBB yang mengutuk tragedi jatuhnya pesawat yang diduga terjadi karena terkena tembakan rudal di wilayah konflik itu.
Hingga saat ini belum diketahui dengan pasti siapa pelaku penembakan rudal, mengingat lokasi jatuhnya pesawat merupakan daerah konflik antara kelompok separatis pro-Rusia dengan pasukan pemerintah sejak beberapa bulan terakhir.
"Kami yakin itu adalah tindakan pelanggaran hukum internasional serius," kata pernyataan bersama itu.
Di sisi lain, kelima Menlu itu juga menuntut diberikannya akses penuh ke lokasi kejadian demi kepentingan penyelidikan lebih lanjut.
Diketahui, pesawat yang bertolak dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur itu tiba-tiba saja jatuh di wilayah timur Ukraina pada Kamis (17/7), padahal pilot tidak memberikan panggilan darurat sebelumnya. Akibatnya, tidak seorang pun penumpang ataupun kru pesawat yang diketahui selamat.
Hingga saat ini proses penyelidikan masih terus dilakukan di lokasi kejadian. Sementara itu proses identifikasi korban telah mulai dilakukan di lokasi berbeda, yakni di Belanda.
[mel]
BERITA TERKAIT: