Seperti dikabarkan
AFP, pemimpin umat Katolik, Uskup Agung Fouad Twal di Jerussalem akan memimpin prosesi ke Bethlehem dan merayakan misa di kota suci. Prosesi tersebut rencananya juga dihadiri oleh Presiden Palestina, Mahmoud Abbas dan sejumlah pejabat penting lainnya.
Dalam pesan Natalnya pekan lalu, Uskup Agung, Fouad Twal menyebutkan keprihatinannya bahwa perayaan Natal tahun ini digelar di tengah konflik dan bencana alam yang menimpa umat kristiani di berbagai belahan dunia.
Ia menyebut keprihatinannya atas bencana topan haiyan yang melanda Filipina pada awal November lalu, sehingga menyebabkan umat kristiani yang menjadi korban terpaksa merayakan Natal dengan keterbatasan.
Selain itu, ia juga menyebut tentang permasalahan Israel dan Palestina yang turut menyebabkan masyarakat menderita. Uskup Agung Twal menyebut bahwa perjanjian damai yang kembali dimulai oleh Palestina dan Israel dengan inisiasi dari Amerika Serikat pada Juli lalu setelah terhenti selama tiga tahun, menghadapi hambatan terutama oleh pembangunan pemukiman Israel.
"Selama masalah ini tidak diselesaikan, orang-orang di wilayah kita akan menderita," katanya sambil menambahkan bahwa konflik Israel-Palestina merupakan salah satu sumber ketidakstabilan di wilayah timur tengah.
Ia juga mengutarakan keresahannya atas konflik bersenjata yang terjadi di Suriah dan telah menelan sekitar 126 ribu korban jiwa sejak Maret 2011 lalu.
"Masalah Suriah tidak bisa diselesaikan dengan kekuatan bersenjata," terangnya.
Karena itulah, Uskup Agung menyerukan kepada seluruh pemimpin di dunia agar memikul tanggung jawab untuk menciptakan perdamaian bersama.
"Kami menyerukan kepada seluruh pemimpin politik untuk mengambil tanggung jawab atas solusi politik yang dapat diterima untuk mengakhiri kekerasan dan menegakkan kehormatan atas martabat setiap manusia," katanya
.[wid]