Pengembangan Ekraf Harus Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat
| Senin, 16 Oktober 2017, 11:58 WIB

Industri ekonomi kreatif yang dikelola secara tepat dan baik dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing, guna memicu tumbuhnya inovasi dan kreativitas serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk mewujudkan itu diperlukan strategi khusus guna mewujudkan industri kreatif yang dapat menggairahkan perekonomian di daerah.
Tim Komisi X DPR RI dipimpin Ketua Komisi X Sutan Adil Hendra melakukan kunjungan kerja spesifik guna mendapat masukan dan aspirasi terkait RUU Ekonomi Kreatif ke Provinsi Sumatera Selatan pada Kamis lalu (12/10).
Dia menjelaskan, pada dasarnya pengembangan ekraf bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu Pemprov Sumsel dalam upaya pengembangan ekonomi kreatif sebagaimana strategi dan arah kebijakan yang tercantum dalam RPJMD Pemprov 2003-2018 diharap mampu menanggulangi kemiskinan sebagai prioritas pembangunan daerah.
Sutan juga berpesan agar Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dapat meningkatkan tradisi daerah yang sudah ada seperti songket, kuliner khas Sumsel seperti pempek dapat dikembangkan lagi secara kreatif dan bernilai ganda.
"Kita ingin Bekraf itu ada untuk meningkatkan apa yang sudah ada lebih berkembang lagi. Bagaimana pengembangan ekraf ke depan. Jadi penekanan kami dari sisi politik, Komisi X kami minta Bekraf harus hadir di setiap langkah yang berhubungan dengan ekraf," paparnya.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel Irene Camelyn Sinaga mengatakan, industri kreatif punya tujuan mensejahterakan masyarakat dan perluasan lapangan kerja, sehingga apa yang sudah ada di Sumsel bisa dinaikkan lagi retingnya.
"Dalam arti kualitas produk, packing dan sebagainya, diharapkan dapat menghasilkan dua kali lipat kesejahteraan yang sudah ada. Industri kreatif sudah ada tinggal bagaimana menaikkan levelnya dengan keuntungan yang ganda," ujarnya.
Di Sumsel, kuliner fashion, kria, dan seni pertunjukan merupakan bidang ekonomi kreatif yang menjadi proritas pembangunan ekraf jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Bumi Sriwijaya ini, memiliki potensi kuliner yang beragam dan unik, diantara kuliner tersebut telah menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTB) yakni Pempek dan Kue Bolu 8 Jam. Di samping itu terdapat kuliner khas lainnya seperti pindang, lempok, rusip, tempoyak, bekasam.
Bidang fashion juga memiliki potensi pengelolaan tekstil dengan produk antara lain Songket yang sudah menjadi WBTB Indonesia, Jumputan, Blongsong, Tajung, Gebeng, dan Batik Palembang. Adapun kerajinan atau kriya khas Sumsel ada perhiasan emas, kerajinan perhiasan perak dan gerabah serta kerajinan rakyat lainnya.
[wah/***]