Komisi III Sudah Cek Lubang Kaburnya 4 Napi WNA, Ini Kecurigaannya
| Rabu, 12 Juli 2017, 21:58 WIB
Benny K Harman, Aboe Bakar Alhabsy/Humas DPR RI

Komisi III DPR meninjau langsung ke lubang galian bawah tanah yang dipakai kabur oleh empat orang narapidana Warga Negara Asing (WNA) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kerobokan, Badung, Bali, beberapa minggu yang lalu.
Hingga kini, warga binaan kasus narkoba itu sudah tertangkap sebanyak dua napi, sementara sisanya masih dalam pencarian.
"Yang menarik dari kasus ini bahwa mereka melarikan diri melalui lubang yang dibuat di bawah tanah dan tembok yang membatasi Lapas Kerobokan ini dengan pagar penduduk di luar. Lubang ini panjangnya 15 meter dan orang bisa jalan didalamnya. Itu '
kan berarti semacam katakombe (lorong di bawah tanah)," kata Wakil Ketua Komisi III DPR Benny K Harman, saat memimpin Tim Kunspek ke Lapas Kerobokan, Badung, Bali, Jumat (7/7) lalu.
Politisi Fraksi Demokrat itu menambahkan, dari penjelasan Kakanwil Kemenkum dan HAM Bali dan Kalapas Kerobokan, keberadaan selama ini lubang itu ternyata tidak diketahui. Lubang itu baru diketahui sebelum Lebaran, setelah dilakukan pengecekan atau apel umum untuk warga binaan.
"Kita datang untuk memastikan kenapa lubang ini sampai digali, apakah tidak ada pengawasan, apakah tidak ada patroli keliling di Lapas Kerobokan ini. Kalau ada patroli keliling maka pastilah ketahuan adanya lubang ini. Kalau lubang ini digali pastilah ada tanahnya. Lalu, tanahnya ini dibawa kemana," kata Benny, mempertanyakan.
Legislator dari Dapil NTT ini menduga, proses pembuatan lubang itu bukan hanya dalam hitungan pekan, tapi sampai berbulan-bulan. Bahkan, lubang ini digali bukan hanya dari dalam lapas, namun juga digali dari luar, yang kemudian ketemu dit engah-tengahnya. Hasil tinjauan, lubang itu berdiameter itu setidaknya tiga meter dengan panjang 15 meter.
"Kita minta kepada pemerintah dalam hal ini Menkumham untuk melakukan penyelidikan terhadap lubang itu. Siapa sebetulnya yang melakukan itu atau siapa yang membiarkan itu dilakukan tentu harus dimintai pertanggungjawaban. Bagaimana mungkin lubang yang panjang begitu tidak diketahui oleh petugas-petugas di lapas disini. Itu kan aneh," kritiknya.
Ia juga melihat, ada permasalahan utama di Lapas Kerobokon ini, yakni over kapasitas warga binaan. Sehingga, perlu segera diambil langkah cepat untuk mengatasi hal itu. Salah satunya menurut Benny adalah dengan membangun lapas baru untuk menampung seluruh warga binaan, atau dengan memindahkan ke lapas-lapas di daerah sekitarnya, termasuk Lapas Nusa Kambangan.
"Ke depan, harus ada pemikiran dan kebijakan, kalau bisa Presiden RI Joko Widodo mengambil langkah konkret untuk memindahkan lapas ini ke tempat lain atau mungkin meningkatkan pembangunan lapas ini, untuk bisa menangani warga binaan yang jumlahnya sudah mencapai 1.300-an lebih," pinta Benny, menambahkan.
[***]