Komisi IX Pelajari Program Harga Pas Dan Anak Tokcer
Laporan: | Jumat, 16 Desember 2016, 22:55 WIB

Komisi IX DPR RI dalam Masa Reses Persidangan II Tahun Sidang 2016-2017 melakukan kunjungan kerja (kunker) di Kabupaten Banyuwangi selama dua hari, 16-17 Desember 2016.
Kedatangan komisi yang membidangi Kesehatan, Ketenagakerjaan, Kependudukan Serta Pengawasan Obat dan Makanan ini untuk melihat secara langsung progress pembangunan Banyuwangi melalui berbagai inovasi yang dilakukan di Banyuwangi. Salah satunya di Bidang kesehatan.
"Yang membuat kami penasaran adalah program khusus peningkatan kualitas SDM, yaitu Harga Pas (Harapan Keluarga Peduli Anak Sejak Dini) dan Anak Tokcer (Anak Tumbuh Optimal, Berkualitas dan Cerdas). Kami ingin melihat lebih dalam kedua program tersebut,†kata Syamsul saat disambut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Pendapa Kabupaten, Jumat (16/12).
Program Harga Pas dan Anak Tokcer merupakan program yang digagas Pemkab Banyuwangi untuk mewujudkan generasi penerus yang sehat dan berkualitas unggul melalui pemberian gizi yang tepat sejak dini.Selain itu Banyuwangi juga memiliki program Pergunakan Jamban Sehat, Rakyat Aman (Pujasera). Program tersebut berhasil meraih penghargaan Top 35 inovasi layanan publik dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB). Melalui program ini, pemerintah menyentuh kesadaran mastarakat agar mau merubah kebiasaan yang kurang sehat, seperti BAB sembarangan.
Sejak diluncurkan tahun 2014 hingga saat ini, sudah terwujud 2 desa ODF. Jumlah kepemilikan jamban juga sudah menjadi 5.025 keluarga atau meningkat 386 persen dari sebelumnya yang hanya 1.034 warga.
Dalam kunjungan ini, Syamsul hadir bersama 11 orang rombongannya. Mereka adalah Nur Suhud (F-PDIP), Abidin Fikri (F-PDIP), John Kenedy Azis (Golkar), Khaidir Abdurrahman (Gerindra), Ayub Khan (Demokrat), Aliyah Mustika (Demokrat), Hang Ali S (PAN), Handayani (PKB), Nihayatul Wafiroh (PKB), Adang Sudrajat (PKS), dan Okky Asokawati (PPP).
Bupati Anas pun menceritakan berbagai upaya yang ditempuhnya sehingga menjadikan Banyuwangi menjadi seperti sekarang ini. Salah satunya melalui penguatan sektor pariwisata yang berbasis ekoturisme. Yaitu pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan menawarkan keaslian alam Banyuwangi.
Kami tidak ingin meniru daerah lain dalam mengembangkan pariwisatanya. Kami memiliki gunung, pantai, perkebunan, hutan dan persawahan yang sangat indah. Ini lah yang kami pilih untuk dikembangkan. Alhamdulillah hasilnya sudah kami rasakan bersama rakyat,†kata Anas.
Selain itu, imbuh Anas, Banyuwangi terus konsisten melakukan promosi daerah melalui event kreatif bertajuk Banyuwangi Festival. Tahun 2016 ini 53 even digelar sepanjang tahun sebagai cara mengungkit kunjungan wisatawan. Hasilnya, sampai 2015, investasi yang masuk di Banyuwangi mencapai Rp 11 triliun, Jika dibandingkan dengan 2010 yang investasinya baru Rp 272 miliar, investasi di Banyuwangi melonjak drastis hampir 1.100%.
Kunjungan turis juga terus meningkat. Pada 2015, jumlah turis lokal mencapai 1.926.179 orang, tumbuh 31 persen dibanding 2014 yang sebesar 1.464.948 orang. Adapun turis asing pada 2015 mencapai 46.214 orang, naik 51 persen dari 2014 yang sebanyak 30.681 orang.
Jumlah penduduk miskin pun menurun drastis dari tahun ke tahun. Dari 20,09 persen di tahun 2010, menjadi hanya 9,29 persen di tahun 2014.
Mungkin alasan inilah yang membuat warga kami tidak lagi berminat bekerja sebagai TKI di luar negeri, karena di Banyuwangi saja peluang usaha sudah terbuka luas bagi mereka,†tutup Anas
[ian]