Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)

Pertamina Jujur Saja Kalau Untung Dalam Jualan Premium

Harian Rakyat Merdeka | Senin, 26 September 2016, 08:15 WIB
Pertamina Jujur Saja Kalau Untung Dalam Jualan Premium

Foto/Net

Pertamina diminta untuk jujur mengungkapkan bahwa sebagian keuntungan yang diperoleh di semester I-2016 adalah dari penjualan BBM bersubsidi dan gas elpiji ukuran 3 kilogram. Pertamina tak perlu menutup-nutupi, karena salah satu tugas Pertamina sebagai BUMN adalah mencari untung agar bisa memberi dividen besar ke negara.

Di semester I-2016, Pertamina mencatatkan keuntungan yang sangat besar, mencapai 1,83 miliar dolar AS atau setara Rp 24,25 triliun. Angka ini meningkat 221 persen dalam periode yang sama di tahun lalu. Bahkan, angka ini melam­paui perkiraan perusahaan sebesar 113 persen.

Berdasarkan data dari sum­ber keuangan Pertamina, keuntungan itu sebagiannya didapat dari penjualan BBM bersubsidi seperti premium dan solar dan penjualan gas elpiji ukuran 3 kilogram. Rinciannya, keuntungan dari jualan BBM bersubsidi sebesar 637 juta dolar AS atau setara Rp 8,3 triliun dan dari jualan gas elpiji 3 kilogram sebesar 117 juta dolar AS atau setara Rp 1,5 triliun.

Dalam penjelasan di laporan keuangannya, Pertamina me­nyatakan bahwa laba usaha BBM bersubsidi 449,9 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di 2015. Tingginya kenaikan laba ini disebabkan rendahnya biaya produk sejalan dengan penu­runan harga MOPS (Mid Oils Platts Singapore) dan ICP (harga minyak mentah Indonesia) di periode ini yang rata-rata sekitar 36,16 dolar ASper barel. Harga itu jauh di bawah perkiraan Pertamina yaitu sebesar 50 dolar ASper barel.

Kondisi ini sempat disayangkan ekonom Indef Enny Sri Hartati. Menurut dia, tak selayaknya Pertamina ambil untung dari barang bersubsidi dan dalam kondisi masyarakat yang sulit.

Namun, pihak Pertamina melalui Vice President Corporate Communication Wianda Pusponegoro langsung membantah hal itu. Menurut Wianda, ke­untungan Pertamina diperoleh dari efisiensi yang dilakukan perusahaan, bukan dari jualan BBM bersubsidi dan gas elpiji 3 kilogram, yang juga disub­sidi. Kata Wianda, sepanjang semester I-2016, Pertamina membukukan efisiensi sebesar 1,21 miliar dolar AS.

Anggota Komisi VII DPR Inas N Zubir meminta Pertamina tidak perlu menutup-nutupi hal itu. Jika memang benar, lebih baik diakui saja. Apalagi, data keuntungan itu sudah terpam­pang dalam laporan keuangan Pertamina.

"Jujur saja. Kalau memang dalam penjualan BBM bersub­sidi dan gas elpiji Pertamina mendapat untung, ya akui. Toh keuntungan itu juga salah sa­tunya karena Pertamina mam­pu melakukan efisiensi dalam pengolahan BBM," ucap politisi Hanura ini, tadi malam. ***
1xx

Kolom Komentar

Artikel Lainnya

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)