Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)

WAWANCARA

Marzuki Alie: Silakan Saja Digugat, Lagian Ngapain Takut

| Kamis, 10 Mei 2012, 09:48 WIB
Marzuki Alie: Silakan Saja Digugat, Lagian Ngapain Takut

Marzuki Alie

RMOL. Ketua DPR Marzuki Alie mengaku  pernyataannya soal alumni UI dan UGM banyak menjadi koruptor dikutip tidak utuh, sehingga seolah-olah memojokkan kedua universitas tersebut.

”Saya  tidak bilang di UI dan UGM banyak koruptor. Orang yang menyalin perkataan saya ini keliru,” kata kepada Rakyat Mer­deka, di Jakarta, kemarin.

“Yang saya katakan bahwa ko­rupsi itu menjadi musuh kita bersama. Rata-rata koruptor ini berpendidikan tinggi atau produk dari Perguruan Tinggi. Ada yang dari UI, UGM dan perguruan ting­gi lainnya. Artinya tidak ha­nya UI dan UGM,’’ tambahnya.

Menurut Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu, bukan lembaganya yang salah. Ini hasil pendidikan masa lalu.  

”Sebagai pemerhati pendidikan dan pelaku pendidikan, saya tahu persis mengenai persoalan-per­soalan pendidikan,’’ ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya:


Barangkali Anda yang ter­lalu semangat ngomong, se­hing­­ga lupa menyebutkan begitu?

Yang buat berita itu yang nga­wur. Bahkan saya disuruh so­masi, tapi kita lihat dulu.

Saya ini tidak bicara spesifik mengenai UI dan UGM saja tapi semua secara umum. Ini tulisan tidak lengkap dan terpotong. Ta­nyakan saja kepada profesor Na­nat sebagai ketua presidium ICMI sebagai penyelenggara. Coba simak pidato saya yang banyak itu.

Saya ini diminta untuk menjadi pembicara kunci dalam diskusi tokoh nasional tentang masa depan Perguruan Tinggi di In­donesia. Yang harus saya sam­paikan, pandangan kritis terhadap Per­guruan Tinggi.  


Ada yang menilai, per­nya­ta­an Anda ini tidak cerdas, tang­­gapan Anda?

Saya tidak perlu mengomentari pendapat orang lain. Kita ini ha­rus berani mengungkapkan fak­ta supaya ada solusi. Kita ha­rus berani introspeksi diri, harus tahu kelemhaan kita agar ada per­baikan.

Kalau kita menerima kele­mah­an kita, akan jadi baik. Tapi kalau tidak menerima, kita tidak akan baik karena tidak tahu kelemahan kita. Orang yang paling bahaya itu bila perbuatannya tidak tahu bah­wa dia tidak tahu.


Anda menilai, pernyataan An­da ini wajar ?

Mari kita buka kelemahan kita. Itu kan pandangan kritis saya terhadap Perguruan Tinggi ka­rena saya juga pelaku pendidikan. Saya kan punya Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Saya paham betul ma­salah pendidikan.


Pernyataan Anda ini banyak yang mengecam?

Kalau mau marah. Mau marah sama siapa. Itu kan acara diskusi di kampus. Mau ngapain saja saat berdiskusi nggak apa-apa, kan ber­debat. Di acara itu juga ada Rek­tor UI, ada dari ICMI dan banyak lagi. Kita saling meng­hargai.

Coba tanyakan kepada profe­sor Nanat Fatah Natsir bahwa yang saya katakan ini betul. Ja­ngan pidato saya ini dipotong, ja­ngan diambil jadi statement.


Mahasiswa program doktor UI, David Tobing menggugat Anda, komentar?

Saya rasa orang-orang yang men­dengar saat pidato saya itu bisa ngomong yang sebenarnya karena itu di kampus. Mereka kan minta pandangan saya.

Kecuali jika saya berbicara di luar, boleh marah. Tapi ini kan diskusi di kampus, memangnya salah. Biarin saja. Silakan saja digugat. Orang ini nggak dengar apa acaranya dan saya bicara se­bagai siapa serta bicara apa. Mung­kin saja, orang ini datang di acara itu, tapi ngantuk.


Apa yang akan Anda la­kukan?

Saya sih santai saja. Biasa saja tuh, lagian ngapain takut. Saya ini kan ngomong fakta. Kita harus bicara keburukan kita. Kecuali kalau berbicara sama orang lain. Dalam hal ini luar negeri, berarti kita tidak bermoral.


Sebenarnya apa isi pidato Anda di UI itu?

Pertama, masalah kualitas tenaga pendidik. Kita tahu kalau di PTN mungkin tidak ada ma­salah. Tapi PTN ini hanya 3 per­sen dan 97 persennya PTS. Arti­nya, peran swasta sangat penting juga dalam memberikan pen­di­dikan kepada anak-anak kita. Artinya, PTS juga harus dapat perhatian.

PTS yang ada di daerah ini sulit sekali untuk mendapatkan tenaga pendidik yang bergelar profesor dan doktor. Bahkan S2 saja sulitnya setengah mati.

Kedua, sarana dan prasarana pendidikan. PTN saja masih me­rasa kurang, apalagi swasta. Ba­gaimana Indonesia bisa mem­bawa PT berkelas dunia kalau sa­rana dan prasarana tidak mumpuni.


Hanya itu saja?

Tidak.  Ketiga, PT itu harus menghasilkan orang-orang yang berakhlak mulia. Perlu ada ke­te­ladanan dari pemimpin. Misalnya rektor terhadap bawahannya, ter­masuk mahasiswanya.

Keteladanan ini dengan mem­berikan pembiasaan-pem­biasaan, yakni terbiasa berpikir positif, ter­biasa berbicara positif, dan ber­buat baik.

Keempat, persoalan ling­kung­an. Kalau berada di lingkungan yang baik, kita akan baik pula. [Harian Rakyat Merdeka]

1xx

Kolom Komentar

Artikel Lainnya

Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)