Marzuki Alie
RMOL. Ketua DPR Marzuki Alie mengaku pernyataannya soal alumni UI dan UGM banyak menjadi koruptor dikutip tidak utuh, sehingga seolah-olah memojokkan kedua universitas tersebut.
â€Saya tidak bilang di UI dan UGM banyak koruptor. Orang yang menyalin perkataan saya ini keliru,†kata kepada Rakyat MerÂdeka, di Jakarta, kemarin.
“Yang saya katakan bahwa koÂrupsi itu menjadi musuh kita bersama. Rata-rata koruptor ini berpendidikan tinggi atau produk dari Perguruan Tinggi. Ada yang dari UI, UGM dan perguruan tingÂgi lainnya. Artinya tidak haÂnya UI dan UGM,’’ tambahnya.
Menurut Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu, bukan lembaganya yang salah. Ini hasil pendidikan masa lalu.
â€Sebagai pemerhati pendidikan dan pelaku pendidikan, saya tahu persis mengenai persoalan-perÂsoalan pendidikan,’’ ujarnya.
Berikut kutipan selengkapnya:
Barangkali Anda yang terÂlalu semangat ngomong, seÂhingÂÂga lupa menyebutkan begitu?
Yang buat berita itu yang ngaÂwur. Bahkan saya disuruh soÂmasi, tapi kita lihat dulu.
Saya ini tidak bicara spesifik mengenai UI dan UGM saja tapi semua secara umum. Ini tulisan tidak lengkap dan terpotong. TaÂnyakan saja kepada profesor NaÂnat sebagai ketua presidium ICMI sebagai penyelenggara. Coba simak pidato saya yang banyak itu.
Saya ini diminta untuk menjadi pembicara kunci dalam diskusi tokoh nasional tentang masa depan Perguruan Tinggi di InÂdonesia. Yang harus saya samÂpaikan, pandangan kritis terhadap PerÂguruan Tinggi.
Ada yang menilai, perÂnyaÂtaÂan Anda ini tidak cerdas, tangÂÂgapan Anda?
Saya tidak perlu mengomentari pendapat orang lain. Kita ini haÂrus berani mengungkapkan fakÂta supaya ada solusi. Kita haÂrus berani introspeksi diri, harus tahu kelemhaan kita agar ada perÂbaikan.
Kalau kita menerima keleÂmahÂan kita, akan jadi baik. Tapi kalau tidak menerima, kita tidak akan baik karena tidak tahu kelemahan kita. Orang yang paling bahaya itu bila perbuatannya tidak tahu bahÂwa dia tidak tahu.
Anda menilai, pernyataan AnÂda ini wajar ?
Mari kita buka kelemahan kita. Itu kan pandangan kritis saya terhadap Perguruan Tinggi kaÂrena saya juga pelaku pendidikan. Saya kan punya Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Saya paham betul maÂsalah pendidikan.
Pernyataan Anda ini banyak yang mengecam?
Kalau mau marah. Mau marah sama siapa. Itu kan acara diskusi di kampus. Mau ngapain saja saat berdiskusi nggak apa-apa, kan berÂdebat. Di acara itu juga ada RekÂtor UI, ada dari ICMI dan banyak lagi. Kita saling mengÂhargai.
Coba tanyakan kepada profeÂsor Nanat Fatah Natsir bahwa yang saya katakan ini betul. JaÂngan pidato saya ini dipotong, jaÂngan diambil jadi statement.
Mahasiswa program doktor UI, David Tobing menggugat Anda, komentar?
Saya rasa orang-orang yang menÂdengar saat pidato saya itu bisa ngomong yang sebenarnya karena itu di kampus. Mereka kan minta pandangan saya.
Kecuali jika saya berbicara di luar, boleh marah. Tapi ini kan diskusi di kampus, memangnya salah. Biarin saja. Silakan saja digugat. Orang ini nggak dengar apa acaranya dan saya bicara seÂbagai siapa serta bicara apa. MungÂkin saja, orang ini datang di acara itu, tapi ngantuk.
Apa yang akan Anda laÂkukan?
Saya sih santai saja. Biasa saja tuh, lagian ngapain takut. Saya ini kan ngomong fakta. Kita harus bicara keburukan kita. Kecuali kalau berbicara sama orang lain. Dalam hal ini luar negeri, berarti kita tidak bermoral.
Sebenarnya apa isi pidato Anda di UI itu?
Pertama, masalah kualitas tenaga pendidik. Kita tahu kalau di PTN mungkin tidak ada maÂsalah. Tapi PTN ini hanya 3 perÂsen dan 97 persennya PTS. ArtiÂnya, peran swasta sangat penting juga dalam memberikan penÂdiÂdikan kepada anak-anak kita. Artinya, PTS juga harus dapat perhatian.
PTS yang ada di daerah ini sulit sekali untuk mendapatkan tenaga pendidik yang bergelar profesor dan doktor. Bahkan S2 saja sulitnya setengah mati.
Kedua, sarana dan prasarana pendidikan. PTN saja masih meÂrasa kurang, apalagi swasta. BaÂgaimana Indonesia bisa memÂbawa PT berkelas dunia kalau saÂrana dan prasarana tidak mumpuni.
Hanya itu saja?
Tidak. Ketiga, PT itu harus menghasilkan orang-orang yang berakhlak mulia. Perlu ada keÂteÂladanan dari pemimpin. Misalnya rektor terhadap bawahannya, terÂmasuk mahasiswanya.
Keteladanan ini dengan memÂberikan pembiasaan-pemÂbiasaan, yakni terbiasa berpikir positif, terÂbiasa berbicara positif, dan berÂbuat baik.
Keempat, persoalan lingÂkungÂan. Kalau berada di lingkungan yang baik, kita akan baik pula. [Harian Rakyat Merdeka]