WAWANCARA
Taufik Kurniawan: Kami Yang Melahirkan, Tak Mungkin KPK Dibunuh
| Kamis, 25 Agustus 2011, 04:58 WIB
RMOL. Masyarakat diharapkan tidak meragukan DPR untuk menyeleksi calon pimpinan KPK. Sebab, lembaga yang dikomandoi Busyro Muqoddas itu lahir atas keputusan politik DPR.
“Kami yang melahirkan KPK, nggak mungkin dibunuh. Tentu DPR akan menyeleksi secara benar calon pimpinan KPK,’’ ujar Wakil Ketua KPK, Taufik KurÂniawan, kepada
Rakyat Merdeka, di Jakarta.
Logikanya, kata Sekjen PAN itu, tidak mungkin seorang ibu yang mengandung dan melahirÂkan seorang bayi, lalu membunuh bayi tersebut. Begitu juga dengan sikap dan posisi DPR kepada KPK.
“Tidak mungkin kami ingin membunuh atau mengurangi peran KPK. Jangan dicurigai seperti itu,’’ katanya.
Berikut kutipan selengkapnya:
Apa DPR sepakat memilih yang terbaik dari delapan calon pimpinan KPK?Tentu dong. Tapi yang terbaik itu belum tentu sesuai ranking yang telah dibuat DPR. Kami tidak bisa terpengaruh dengan penilaian itu karena belum tentu penilaiannya sama dengan yang dikeluarkan Pansel.
(Ranking yang ditentukan Pansel adalah: Bambang WidjoÂjanto, Yunus Husein, Abdullah Hehamahua, Handoyo Sudradjat, Abraham Samad, Zulkarnain, Adnan Pandu Praja, dan Aryanto Sutandi).
Bukankah ranking 1 sampai 4 yang terbaik? Ranking yang dikeluarkan PanÂsel merupakan penilaian terÂtulis teoritik masing-masing caÂlon, seÂperti membuat makalah, tes waÂwanÂcara dan menjawab isian tes.
Namun ketika menyangkut maÂsalah kepemimpinan KPK, peÂnilaiannya tidak bisa teoritikal saja. Tapi perlu ditambahkan soal kejujuran, independensi, dan inÂteÂgritas menjadi poin penting dalam penilaian.
Kami tetap berkeyakinan, eleÂmen kejujuran, independensi dan integritas tidak bisa ranking.
Kapan seleksi dilakukan?Nanti akan dibahas terÂlebih daÂhulu di rapat pimpinan. KemuÂdian diteruskan pada pemÂbahasan teknis untuk meÂlakukan fit and proper test di KoÂmisi III DPR.
Kedelapan orang calon pimÂÂpiÂnan KPK itu kita akan lihat perÂkemÂbanganÂnya seperti apa saat
fit and proper test. DPR akan lebih aktif dan teliti melihat reÂkam jejak para calon.
Bagaimana sosok pimpinan KPK yang diharapkan DPR?Selama ini KPK memang suÂdah memberikan hasil dalam memÂberantas korupsi. Tapi masaÂlah independensi, profesionalisÂme, dan objektifitas harus ditingÂkatkan. Kita bisa lihat selama ini KPK hanya menangkap koruptor kelas teri, hanya korupsi APBD kelas teri dan korupsi yang sifatÂnya gratifikasi.
Intinya DPR mendukung KPK mengungkap korupsi sistemik dan substansial. Itu harus diungÂkap. Untuk itu dibutuhkan kebeÂraÂnian dari pimpinan KPK ke depan. Makanya harus objektif, jujur, amanah, istiqomah, dan rendah hati mengemban tugas yang berat itu. Karena tanggungÂjawabnya di dunia dan akhirat.
Untuk mendapatkan sosok seÂperti itu, apanya yang perlu diÂseleksi?Proses di panitia seleksi baru sebatas teori saja. Nah prakteknya belum dilakukan. Untuk itu, tes di DPR merupakan “tes praktek†dalam memberantas korupsi, karena epicentrum politik di IndoÂnesia ada di DPR. Ibarat seoÂrang ibu, ketika ingin melahirkan kembali, tentu si ibu ingin anakÂnya cakep dan pinter. Begitu juga dengan harapan DPR bagi KPK ke depan.
Pemilihan pimpinan KPK ini dinilai banyak kalangan sarat dengan politis, tanggapan Anda?Ini yang harus diluruskan. Saya ingin mengingatkan bahwa yang melahirkan KPK adalah DPR. Ini artainya KPK lahir karena keingiÂnan politik yang tinggi dari DPR pada saat itu.
Logikanya, tidak mungkin seorang ibu yang mengandung dan melahirkan seorang bayi, lalu tegas membunuh bayi tersebut. Begitu juga dengan sikap dan posisi DPR kepada KPK, tidak mungkin kita ingin membunuh atau mengurangi peran KPK.
Beberapa kalangan meraguÂkan komitmen DPR?DPR yang melahirkan KPK, kok orang lain yang ribut mengeÂnai fit and proper test. Kami ingin KPK harus diperkuat secara insÂtitusi. Independensi dan profesioÂnalisme KPK harus didukung penuh.
Intinya DPR tetap berkomitÂmen pada keberadaan KPK dan
on the track dalam menjalankan tugasnya. Jangan diplintir bahwa DPR punya kepentingan politik dalam proses ini.
KPK merupakan lembaga yang sangat diharapkan masyaÂrakat, untuk itu harus kita jaga citranya dan didukung penuh.
[rm]