Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap Rupiah datang seiring penguatan Dolar AS setelah Washington meluncurkan kampanye sanksi besar-besaran terhadap jalur keuangan Iran yang disebut Operasi Economic Outcast.
"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap Dolar AS yang rebound seiring meningkatnya kekhawatiran investor setelah AS mengumumkan blokade ekonomi berskala besar terhadap Iran yang bertujuan melumpuhkan jalur keuangan negara tersebut," kata Lukman kepada RMOL, Selasa, 25 Agustus 2026.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengatakan operasi tersebut diluncurkan pada Senin, 24 Agustus 2026, atas arahan Presiden Donald Trump.
Sasarannya adalah jaringan keuangan yang membantu Iran memperoleh pendapatan, menghindari sanksi, serta mempertahankan aktivitas ekonominya.
"Hari ini, dengan semangat yang sama, kami melancarkan serangan ekonomi terhadap koneksi keuangan Iran di seluruh dunia," kata Bessent dalam pernyataan resmi Departemen Keuangan AS.
Menurut Lukman, AS juga memperingatkan negara mana pun yang berupaya memberikan bantuan atau membuka celah finansial bagi Iran akan menghadapi konsekuensi serupa.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran investor dan mendorong penguatan Dolar AS sebagai aset safe haven, sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
Mengacu pada data Bloomberg, hingga pukul 11.15 WIB Rupiah bergerak melemah 0,10 persen ke level Rp17.738 per Dolar AS.
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan Rupiah masih akan bergerak tertekan di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per Dolar AS.
BERITA TERKAIT: