Pantauan RMOL, hingga pukul 09.29 WIB, saham ASII sempat menyentuh level tertinggi Rp5.175 sebelum kembali diperdagangkan di Rp5.125 per saham. Sementara itu, level terendah berada di Rp5.025.
Aktivitas perdagangan ASII juga cukup ramai. Sebanyak 6,91 juta saham telah diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp35,2 miliar melalui 1.891 kali transaksi. Volume transaksi negosiasi tercatat 29.400 saham.
Penguatan tersebut melanjutkan kinerja saham ASII pada perdagangan sebelumnya.
Pada penutupan 4 Agustus 2026, saham ASII naik 1 persen atau Rp75 ke level Rp5.125 per saham, dengan rentang perdagangan Rp5.000-Rp5.125 dan nilai transaksi sekitar Rp200,4 miliar.
Pergerakan saham ASII terjadi di tengah publikasi kinerja keuangan semester I 2026. Perseroan membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp12,53 triliun, turun 19,22 persen dibandingkan Rp15,5 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Dalam keterbukaan informasi yang dikutip RMOL di Jakarta, Rabu 5 Agustus 2026, pendapatan bersih ASII tercatat Rp157,9 triliun, turun 3,04 persen dari Rp162,85 triliun pada semester I 2025. Meski demikian, perseroan mampu menekan beban pokok pendapatan 2 persen menjadi Rp125,46 triliun.
Di tengah tekanan tersebut, kontribusi ventura bersama dan entitas asosiasi justru tumbuh 35,31 persen menjadi Rp5,12 triliun dari Rp3,78 triliun. Biaya keuangan juga turun 1,17 persen menjadi Rp1,85 triliun.
ASII turut mencatat lonjakan penghasilan komprehensif lain setelah pajak sebesar 739,43 persen menjadi Rp3,81 triliun dari Rp454 miliar. Kenaikan ini terutama berasal dari selisih kurs penjabaran laporan keuangan dalam valuta asing sebesar Rp2,06 triliun dan keuntungan lindung nilai arus kas Rp1,85 triliun.
Dari sisi neraca, total aset ASII hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp514,5 triliun, meningkat dari Rp507,3 triliun pada akhir 2025. Posisi tersebut menunjukkan kondisi keuangan perseroan tetap solid di tengah dinamika bisnis sepanjang paruh pertama tahun ini.
Pada level Rp5.125, ASII memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp204,59 triliun, EPS Rp785, dan rasio harga terhadap laba sekitar 6 kali. Berdasarkan kapitalisasi pasar, ASII berada di peringkat pertama dari lima perusahaan dalam industri terkait dan posisi ke-10 dari 964 perusahaan secara keseluruhan.
Dengan portofolio bisnis yang terdiversifikasi, kontribusi entitas asosiasi yang terus meningkat, serta neraca yang tetap kuat, ASII masih memiliki fondasi yang solid untuk menjaga kinerja bisnis hingga akhir 2026, meski laba bersih pada semester I mengalami penurunan.
BERITA TERKAIT: