Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, peningkatan ekspor tersebut terutama ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas.
"Nilai ekspor migas tercatat senilai 8,01 miliar dolar AS atau turun sebesar 9,98 persen. Sementara untuk nilai ekspor nonmigas tercatat naik sebesar 5,48 persen dengan nilainya 185,63 miliar dolar AS," kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.
Menurut Ateng, peningkatan ekspor nonmigas terutama berasal dari komoditas nikel dan barang daripadanya, bahan bakar mineral, serta lemak dan minyak hewani atau nabati.
Secara kumulatif, peningkatan ekspor nonmigas juga ditopang sektor industri pengolahan yang tumbuh 7,87 persen. Sektor tersebut memberikan andil sebesar 6,30 persen terhadap peningkatan ekspor nonmigas sepanjang Januari-Agustus 2026.
"Untuk ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar terutama produk olahan nikel, kemudian kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, aluminium, kimia dasar anorganik lainnya serta juga dari tembaga," kata Ateng.
Dari sisi negara tujuan, Tiongkok masih menjadi salah satu pasar utama ekspor nonmigas Indonesia. Nilai ekspor nonmigas ke Tiongkok mencapai 47,44 miliar Dolar AS atau meningkat 17,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan tersebut terutama berasal dari ekspor nikel dan barang daripadanya, lemak dan minyak hewani atau nabati, serta bahan bakar mineral.
"Jika dibandingkan secara kumulatif dengan produk yang sama di tahun yang lalu, maka pada Januari sampai dengan Agustus tahun 2026 ekspor nonmigas ke Amerika Serikat, ke India dan juga ke ASEAN mengalami peningkatan," ujar Ateng.
Sementara itu, khusus Agustus 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai 26,61 miliar Dolar AS atau tumbuh 6,72 persen secara tahunan (yoy).
Ekspor migas pada Agustus 2026 tercatat 0,99 miliar dolar AS, turun 5,10 persen yoy. Sedangkan ekspor nonmigas mencapai 25,62 miliar dolar AS atau tumbuh 7,23 persen dibandingkan Agustus 2025.
BERITA TERKAIT: