Potensi peredaan konflik di kawasan Teluk ini dinilai mampu menekan gejolak pasar energi sekaligus melonggarkan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve.
Memimpin penguatan di sektor logam, emas spot melonjak 1,6 persen hingga menyentuh level 4.068,29 Dolar AS per ons. Mengikuti jejak yang sama, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus mengunci posisi penutupan di 4.076,40 per ons setelah melompat 1,5 persen.
Langkah penguatan emas juga diikuti oleh reli tajam pada komoditas logam mulia lainnya. Perak spot mencatatkan lonjakan paling ekstrem dengan melesat 4,1 persen ke posisi 58,72 Dolar AS per ons. Sementara itu, platinum terangkat 1,9 persen menjadi 1.623,63 Dolar AS per ons, dan paladium melonjak 2,4 persen hingga bertengger di level 1.282,25 Dolar AS per ons.
Sentimen positif pasar meroket setelah pejabat teras Iran mengonfirmasi telah menerima draf proposal dari pihak mediator terkait gencatan senjata selama 10 hari guna menyelamatkan kesepakatan sementara yang sempat tertunda. Kondisi ini meredakan kekhawatiran atas lonjakan harga minyak Teluk yang sebelumnya memicu spekulasi inflasi tinggi serta ancaman suku bunga acuan AS bertahan tinggi lebih lama.
Kendati status emas sebagai aset lindung nilai inflasi cukup tangguh, tingginya biaya peluang memegang logam mulia tanpa imbal hasil saat suku bunga naik tetap menjadi batu ganjalan.
Investor global saat ini memilih bersikap cermat menanti arah kebijakan moneter dalam rapat dua hari The Fed pekan depan, terutama menyimak pandangan Chairman Kevin Warsh. Mengutip CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September kini berada di kisaran 68 persen.
BERITA TERKAIT: