Emiten pengolahan hasil perikanan yang sebagian sahamnya dimiliki perusahaan milik Kaesang Pangarep itu kini tengah mengupayakan restrukturisasi pinjaman kepada sejumlah bank, di tengah keterbatasan modal kerja yang membuat kapasitas produksinya menyusut drastis.
Dalam penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 6 Juli 2026, yang dikutip redaksi di Jakarta, Kamis 9 Juli 2026, manajemen menyebut keterbatasan modal kerja menjadi tantangan terbesar yang dihadapi perseroan saat ini.
Kondisi tersebut membuat perusahaan hanya mampu mengoperasikan satu pabrik di Situbondo dan membutuhkan tambahan modal kerja sekitar 15 juta Dolar AS atau setara Rp269,1 miliar, agar operasional dapat kembali berjalan optimal.
Untuk menjaga keberlangsungan ekspor, PMMP memfokuskan kegiatan usaha pada produk udang dan menerapkan skema pembelian produk jadi dari pihak ketiga. Pembayaran kepada pemasok baru dilakukan setelah hasil ekspor diterima perusahaan.
"Sementara ini perseroan membeli produk jadi dari perusahaan lain dengan pembayaran di belakang setelah hasil ekspor diterima oleh perseroan," tulis manajemen.
Tekanan terhadap operasional juga berdampak pada efisiensi tenaga kerja. Sejak 2024, PMMP telah melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 37 staf dan 79 pekerja harian. Selain itu, sebanyak 82 staf memilih mengundurkan diri.
Di sisi pembiayaan, PMMP masih menanggung kewajiban kredit kepada sejumlah perbankan dan lembaga pembiayaan.
Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, pinjaman terbesar berasal dari PT Bank Permata Tbk dengan outstanding mencapai 53,12 juta Dolar AS atau sekitar Rp953,4 miliar (kurs Rp17.948 per Dolar AS), di luar fasilitas kredit sebesar Rp5,49 miliar.
Perseroan juga memiliki pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk sebesar 40,29 juta Dolar AS atau sekitar Rp723 miliar, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebesar 30,71 juta Dolar AS atau sekitar Rp551,2 miliar, PT Bank SMBC Indonesia Tbk sebesar 22,8 juta Dolar AS atau sekitar Rp409,1 miliar, dan beberapa bank lainnya.
"Saldo tersebut di atas di luar hutang bunga," tulis manajemen.
Untuk meringankan beban keuangan, perseroan tengah mengajukan restrukturisasi pinjaman kepada seluruh krediturnya.
Hingga kini, restrukturisasi baru disetujui oleh PT Bank Permata Tbk melalui perjanjian yang ditandatangani pada 22 Desember 2025. Sementara pengajuan kepada BCA, LPEI, SMBC Indonesia, Bank Maspion, dan Bank Resona Perdania masih menunggu persetujuan komite masing-masing bank.
Sebagai bagian dari upaya memperbaiki struktur permodalan, PMMP juga menyiapkan aksi korporasi berupa rights issue serta konversi sebagian utang usaha menjadi saham melalui skema Medium Term Notes (MTN). Perseroan menargetkan laporan keuangan audit tahun buku 2025 selesai pada Agustus 2026, sedangkan pembayaran denda atas keterlambatan penyampaian laporan akan dilakukan secara bertahap.
PT Harapan Bangsa Kita, perusahaan milik Kaesang Pangarep, tercatat memiliki 188,24 juta saham atau setara 7,27 persen kepemilikan di PMMP.

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: