Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyatakan, tahun 2026 menjadi momentum penting dalam eksekusi strategi tersebut, yang mencakup penataan portofolio bisnis, penguatan tata kelola (GCG), restrukturisasi anak usaha, serta pembentukan strategic holding.
Telkom juga mendorong peningkatan disiplin operasional dan efisiensi alokasi modal guna mencapai operational excellence. Transformasi ini diperkuat dengan perubahan budaya perusahaan yang menekankan kolaborasi, akuntabilitas, dan orientasi kinerja.
Sejumlah langkah konkret telah dilakukan, termasuk pembentukan FiberCo melalui PT Telkom Infrastruktur Indonesia (Infranexia) untuk mengoptimalkan bisnis infrastruktur digital, serta pengembangan data center dan tower melalui NeutraDC dan Mitratel.
Selain itu, Telkom menjalankan streamlining bisnis dengan melepas entitas non-core, salah satunya melalui rencana divestasi AdMedika oleh TelkomMetra.
Ke depan, Telkom akan mengandalkan empat pilar utama sebagai mesin pertumbuhan, yakni B2C, B2B ICT, Digital Infrastructure, dan International Business.
“TLKM 30 kami jalankan untuk membuka nilai yang lebih besar dari seluruh potensi bisnis Telkom sekaligus memperkuat kontribusi perusahaan kepada negara dan pemegang saham, melalui peningkatan nilai dan dividen,” ujar Dian dalam agenda TelkomGroup Business Update di Jakarta, Jumat, 6 Maret 2026.
Ia menambahkan, transformasi ini juga diarahkan untuk memberikan dampak positif bagi perekonomian dan masyarakat melalui layanan konektivitas digital yang semakin merata dan berkualitas.
BERITA TERKAIT: