Di saat yang sama, pasar sedang mengantisipasi langkah balasan Presiden Donald Trump terkait kebijakan tarif global setelah kemenangannya dijegal oleh keputusan Mahkamah Agung.
Dikutip dari Reuters, Harga emas spot menguat 1,5 persen ke level 5.071,48 Dolar AS per ons. Sedangkan emas berjangka ditutup menguat 1,7 persen di posisi 5.080,90 Dolar AS per ons.
Harga perak spot juga melesat, tumbuh 5,8 persen ke 82,92 Dolar AS.
Sentimen bullish pada emas dipicu oleh data pertumbuhan ekonomi AS kuartal IV yang melambat drastis ke angka 1,4 persen, jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar 3 persen. Kombinasi antara melemahnya konsumsi rumah tangga dan dampak penutupan pemerintah (government shutdown) menjadi beban utama bagi ekonomi Paman Sam.
Meskipun inflasi PCE Desember (0,4 persen) sedikit melampaui prediksi, investor tetap menjadikan emas sebagai aset penyelamat (safe-haven) karena ketidakpastian ekonomi yang belum menunjukkan tanda-tanda pulih.
Sengketa hukum terkait tarif impor turut menambah volatilitas pasar. Setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif daruratnya, Presiden Trump mengumumkan rencana baru untuk memberlakukan tarif global sebesar 10 persen selama 150 hari.
Ketidakpastian jangka menengah ini justru akan terus mendorong minat investor terhadap emas, terutama dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed sebesar 25 basis poin yang diprediksi mulai terjadi pada Juni mendatang.
BERITA TERKAIT: