Emas Spot anjlok 2,2 persen ke level 4.884,46 Dolar AS per ons. Sementara emas berjangka (AS) merosot 2,8 persen ke posisi 4.905,90 Dolar AS per ons.
Ketegangan global mulai mendingin setelah Iran dan Amerika Serikat mencapai kesepahaman prinsip terkait nuklir. Selain itu, dimulainya perundingan damai Rusia-Ukraina di Jenewa mengurangi kecemasan pasar, sehingga investor mulai meninggalkan aset lindung nilai.
Indeks Dolar (DXY) yang menguat 0,3 persen membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain. Tanpa katalis positif baru, emas kehilangan tenaga untuk mempertahankan bull market.
Aktivitas perdagangan di pasar Asia cenderung rendah karena libur Tahun Baru Imlek. Pusat-pusat emas dunia seperti China, Hong Kong, dan Singapura melandai.
Investor kini sedang dalam mode wait and see menantikan dua data krusial dari Amerika Serikat seperti Risalah rapat Federal Reserve (The Fed) dan data inflasi PCE untuk mengintip arah suku bunga.
Pasar memprediksi pemangkasan suku bunga pertama tahun 2026 baru akan terjadi pada bulan Juni. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, daya tarik emas sangat bergantung pada prospek suku bunga rendah tersebut.
BERITA TERKAIT: