Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta, Farchad Mahfud, menjelaskan bahwa sejak awal, MRT tak hanya dibangun sebagai moda transportasi, tetapi juga sebagai aset komersial yang bisa dimonetisasi secara menyeluruh.
"Prinsipnya adalah dari infrastruktur yang dibangun dan dioperasikan itu kita bisa pikirkan sebagai sebuah aset baru yang terdapat ruang komersial yang memiliki nilai tambah untuk memenuhi kebutuhan operasional MRT Jakarta," kata Farchad kepada awak media, di Jakarta pada Kamis, 7 Agustus 2025.
Ia merinci enam bisnis tersebut antara lain bisnis periklanan yang terdapat di seluruh area MRT, termasuk di dalam stasiun, lorong bawah tanah, hingga pilar-pilar reklame. Bahkan, hak penamaan stasiun atau naming rights pun masuk sebagai bisnis periklanan yang menjanjikan, seperti penamaan Stasiun Bundaran HI Bank DKI, Cipete Raya Tuku, hingga Fatmawati Indomaret.
"Kita monetize semuanya sehingga boleh dibilang MRT ini sangat-sangat efisien dalam pemanfaatan untuk seluruh asetnya," tambah Farchad.
Ia bahkan mengungkapkan kontribusi naming rights tercatat mencapai 40 persen di luar penjualan tiket tau non-farebox MRT Jakarta.
Selain itu, seiring dengan perkembangan waktu dan tuntutan zaman, MRT Jakarta juga mengembangkan lini bisnis digital, dengan aplikasi, hingga pembayaran digital.
Pandemi disebut Farchad menjadi salah momentum percepatan transformasi MRT Jakarta. Sebelumnya, aplikasi MRT hanya bisa menampilkan jadwal. Kini, aplikasi tersebut telah berkembang menjadi platform pembayaran tiket berbasis server, sekaligus kanal belanja digital.
"Akhirnya kita go digital semuanya, efisien semua begitu kira-kira dan kita terus mengembangkan jenis-jenis pembayaran yang baru," tuturnya.
Kemudian di sudut-sudut stasiun MRT juga dimanfaatkan sebagai ruang komersial untuk bisnis retail, mulai dari UMKM, vending machine, hingga ATM.
"Selama masa pandemi, kemampuan beli orang makin berkurang dan sebagainya kemudian kita masuk ke yang namanya intensifikasi pendapatan sehingga muncul ATM, vending machine, yang luas permukaannya kecil namun pendapatan relatif besar," jelas Farchad.
Tak berhenti di situ, MRT Jakarta bahkan membuka jasa konsultansi dan pelatihan untuk daerah lain yang ingin membangun sistem MRT serupa. Pengalaman membangun terowongan bawah tanah dan mengoperasikan fase pertama menjadi salah satu keahlian yang kini diunggulkan MRT.
"Bahkan beberapa dari perusahaan di luar negeri datang untuk belajar sama kita karena kita sudah mengoperasikan dan baru saja mengoperasikan asetnya," katanya.
Dalam skala kawasan, MRT Jakarta juga mendorong pengembangan Transit Oriented Development (TOD) di sekitar stasiun. Tujuannya tidak sekadar membangun gedung, tapi menghidupkan kawasan sebagai pusat aktivitas masyarakat yang terintegrasi dengan transportasi publik.
Seiring dengan pengembangan TOD, MRT Jakarta juga turut mengembangkan bisnis event management dan merchandise untuk mendorong aktivitas di kawasan tersebut, dengan konsep business to consumer (b2c)
“Infrastrukturnya nggak boleh diem. Harus ada kegiatan, (untuk itu) kita bangun industri event agar bisa berkolaborasi dengan erbagai pihak untuk terus menghidupkan area TOD yang sudah kita kembangkan,” tandasnya.
Di sepanjang tahun 2024, MRT Jakarta sendiri tercatat meraup pendapatan paling besar dari hak penamaan stasiun dengan kontribusi hingga 50 persen.
Selanjutnya, pendapatan MRT terbesar kedua disumbang oleh advertising sebesar 24 persen, mitra pembayaran 12 persen, retail 8 persen, telco dan digital 4 persen, event activation dan TOD masing-masing 1 persen.
BERITA TERKAIT: