"Kalau Impor, Saya Mundur"

Buwas Pede Stok Beras Berlimpah

Selasa, 30 April 2019, 08:31 WIB
"Kalau Impor, Saya Mundur"
Budi Waseso/Net
rmol news logo Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mewanti-wanti, untuk tidak melakukan impor beras tahun ini. Sebab dia memproyeksi stok komoditas pangan tersebut berlimpah.

Buwas-sapaan akrab Budi Waseso menunjukkan komit­mennya untuk meninggalkan kebiasaan melakukan impor beras. Terutama, di saat stok berlimpah. Menurutnya, untuk tahun ini, Indonesia bisa tidak melakukan impor karena produksi banyak. Hitungan­nya, sampai akhir tahun stok beras yang ada di gudang Bulog mencapai 3 juta ton atau paling kecil 2,5 juta ton.

"Sampai akhir tahun saya buktikan Indonesia nggak perlu impor beras, kecuali ada bencana alam. Kalau dalam kondisi normal dipaksa impor lebih baik saya mundur. Kalau nggak perlu, kenapa harus impor," ungkap Buwas saat berbincang dengan CNBC In­donesia TV, kemarin.

Buwas menuturkan, negara pertanian seperti Indonesia ini sudah saatnya meninggal­kan impor. Beberapa pangan yang jumlah produksinya sudah mencukupi, tidak perlu impor.

"Kita punya kedaulatan pangan. Soal pangan, kita tidak boleh impor," tegasnya.

Tahun ini, Bulog menargetkan penyerapan gabah dan beras sebanyakl 1,8 juta ton. Tahun lalu, Bulog mengantongi izin impor beras dari Kementerian Perdagangan untuk mendatang­kan sekitar 2,25 juta ton. Impor dilakukan dengan alasan stok cadangan beras Bulog hanya sekitar 900 ribu ton.

Menurut sumber Rakyat Merdeka, stok beras Bulog yang lama kini tidak banyak digunakan. Bulog tidak bisa menggelontorkan banyak beras karena peredaran beras lokal di lapangan cukup tinggi. Apalagi, saat ini sejumlah daerah sedang panen raya. Akibat kondisi itu, stok beras lama di Bulog teran­cam rusak.

Selain tidak impor, Bu­was menargetkan Indonesia bisa melakukan ekspor. Dia mengaku, sudah mendorong segenap jajarannya agar melaku­kan inovasi untuk meningkatkan kualitas. Sehingga beras Indone­sia bisa bersaing dengan produk negara-negara lain.

"Saya sudah berkoordinasi dengan menteri pertanian untuk menyerap dan memproduksi beras berkualitas. Kami membangun teknologi untuk meningkatkan kualitas beras," paparnya.

Produksi Dan Harga Bagus

Ketua Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengamini, produksi beras ta­hun ini cukup bagus.

"Jika dibandingkan tahun lalu, produksi tahun ini lebih bagus. Saya lihat sampai akhir tahun, stok beras mencukupi kebutuhan nasional," ungkap Sutarto.

Jika tidak ingin impor, Sutarto mendorong Bulog untuk lebih maksimal melakukan penyerapan beras petani. Sehingga beras itu bisa dijadikan cadangan nasional.

Sementara itu, pengamat sek­tor pangan dan Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaula­tan Pangan (KRKP) Said Abdul­lah menilai, pernyataan Buwas menyatakan akan mundur bila dipaksa impor beras bernuasa politis.

"Kita hanya bisa nebak-nebak apa maksud Buwas. Tapi dari situ bisa dilihat bahwa selama ini di balik layar ada kekisruhan impor pangan, sampai akhirnya Buwas menyampaikan peryataan seperti itu," ungkap Said.

Said menuturkan, untuk me­nentukan apakah Indonesia harus impor atau tidak, dirinya berpatokan pada dua faktor. Yakni, harga beras di pasaran. Dan, stok beras di gudang Bulog. Jika harga stabil dan stok beras berlimpah, tidak perlu melaku­kan impor. Dan sebaliknya, jika harga tinggi dan stok menipis maka harus impor. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA